MINIATUR KUSEN

Pagi itu suasana sangat cerah, mentari bersinar sangat indah, tumbuhan dan bunga menambah kesejukan pagi itu. Tampak di pos ronda, tiga remaja sedang asyik bercengkerama. Roni, Dedi, dan Hasyim. Mereka adalah kawan akrab sejak dibangku sekolah dasar sampai di sekolah tingkat atas. Selain mereka, bapaknya juga pernah bersama membangun sebuah usaha pembuatan kusen, sehingga tak ayal mereka pun selalu bersama. Hasyim anak pandai dan patuh pada orang tuanya, ia tidak bisa melanjutkan sekolah setelah tamat SMA karena terkendala kondisi keuangan keluarga, Hasyim hanya berada di rumah membantu kedua orang tuanya membuat kusen dari kayu. Sedangkan Roni, ia anak orang kaya, fasilitas pribadinya bisa dibilang highclass. Walau terkesan sombong, tapi ia berbudi baik dan solidaritas terhadap sesama sangat tinggi. Adapun Dedi sebatang kara, sejak tamat sekolah SMA kedua orang tuanya telah meninggal dunia, dia tinggal bersama kakek neneknya seorang pedagang sembako di pasar. Roni dan Dedi termasuk bernasib baik bisa melanjutkan sekolah sampai perguruan tinggi. “Pagi ini sungguh indah ya, Ded?” Roni mengawali bincang “Iya, Ron. Hari ini cerah sekali, secerah suasana kita ini,” ha ha ha Dedi menimpali Hasyim terlihat tenang, sambil makan jagung bakar ynng baru dibelinya. Dedi pun ikut menikmati jagung bakar. “Wah, ternyata enak Ron, ayo coba!” bujuk Dedi “Ah, tidak, aku kurang suka jagung bakar,’” jawabnya “Ron, Ded, setelah ini saya pamit pulang dulu, ya!” aku harus segera bantu ayahku membuat kusen pesanan orang. “Ya, ya, kayaknya kamu serius nih Syim, boleh kami nanti ke rumahmu, bersama Roni?” tanya Dedi sambil melihat Roni. “Ya, boleh, aku sangat senang sekali, aku pulang dulu, sampai nanti ya” jawabnya. Pak Herman, bapaknya Hasyim sudah menunggunya. Kemudian meminta Hasyim segera mandi dan makan lalu membantu membuat kusen kembali. Hasyim segera bergegas tanpa berkomnetar. Pak Herman, ayah Hasyim terkenal perajin kusen yang berkualitas bagus, ditambah lagi beliau selalu mengikuti permintaan pasar. Sehingga banyak pembeli yang merasa cocok dan puas atas hasil produksinya. “Yah, katanya banyak pesanan, kok cuma sedikit? Tanya Hasyim agak heran. “Hmm..sejak pandemi korona, Syim, ayah tak banyak bisa membeli bahan baku, sehingga ada beberapa calon pemesan yang ayah batalkan.” Jawab Pak Herman lesu Hasyim tak berani melanjutkan bertanya pada ayahnya, takut kalau ayah tambah sedih dan menjadikan putus asa. Setelah menyelesaikan tugasnya, Hasyim duduk di samping ayahnya yang sedang beristirahat, lima belas menit kemudian Roni dan Dedi datang. “Assalamualaiakum, selamat siang Bapak?” serempak Roni dan Dedi mengucap salam pada Pak Herman dan Hasyim “Wa’alaikumussalam. Eh, Nak Roni dan Nak Dedi, mari silakan duduk, kebetulan ada singkong rebus nih...!” jawab pak Herman sambil mempersilakan mereka duduk. “Terimakasih Bapak, oh ya, kami datang ingin ikut membantu Hasyim, katanya tadi banyak pesanan kusen yang belum jadi, siapa tahu kami bisa ikut serta.” sahut Roni “Tidak begitu, Nak Roni, memang sebenarnya pesanan Bapak banyak namun karena suasana pandemi ini, Bapak tidak bisa membeli bahan baku karena langka dan mahal, sehingga banyak yang bapak gagalkan,” timpal pak Herman. “Oh, begitu ya Pak, apa ada ide untuk menyelesaikan masalah ini?” tanya Dedi kemudian. “Bapak tidak tahu, Nak Dedi, kalau misal Bapak bisa membeli bahan baku, kemungkinannya mahal dan pemesan sedikit. “Oh ya, maaf Nak Roni dan Nak Dedi, silakan kalian lanjutkan perbincangan dengan Hasyim, ya!” Bapak mau ke belakang dahulu. “Baiklah, Bapak, terima kasih,” Jawab Dedi. “Ron, Kamu punya ide biasanya,. Pinta Hasyim pada Roni. “Hmm, iya ya ya. Apa ya?” “Bagaimana?” Tanya Hasyim penasaran “Begini, aku punya ide, tapi maaf ya kalau kurang tepat. Syim, kamu kan bisa membuat kusen lebih kecil dari standar....hmmm maksudku kita buat saja miniatur kusen, saya lihat bahan baku yang ada cukup dan bisa dibuat lebih banyak, Nah, tugas Dedi mempromosikan hasilnya, Kamu kan pintar berdagang...he.he.he.” jelas Roni “Bagus juga itu, Ron..lha kamu sendiri bagaimana?” tanya Dedi di iyakan Hasyim “Oh, kalau aku gampang, tinggal telpon ayah, dan membeli sebagian hasil karya kamu Syim, untuk dipromosikan ke luar daerah..Tapi, kalau kamu setuju dan hasilnya oke.” Jelas Roni pada Hasyim dan Dedi. “Oke, baik, aku setuju.” Jawab Hasyim penuh semangat Setelah perbincangan mereka selesai, dan Hasim menyampaikan ide kawan-kawannya, tanpa di duga ayah Hasim pun menyetujuinya. Esok harinya, Hasim bekerja keras memotong bahan kayu juga mengumpulkan bongkahan kayu bekas pakai yang masih bagus dan memotongkannya sesuai ukuran yang dikehendaki. Dengan ketekunannya, dan semangat kawan-kawannya. Miniatur kusen telah terbentuk dengan berbagai model, kemudian Hasyim mengamplas sepeti layaknya kusen besar, mengecat dan memoles sedikit warna agar terkesan bagus. Saat sedang memandangi hasil karyanya, Pak Herman mendatanginya, dan terkejut melihat karya anaknya yang sungguh sangat bagus di luar perkiraannya. :Syim, bagus sekali miniaturnya, kamu dapat ide kreatif dari mana?” Tanya ayahnya keheranan. “Ini, saya buat dan cari model motif dari internet. Yah”, jawab Hasyim. “Bagus sekali Syim, Bapak bangga padamu. “Roni dan Dedi datang bersamaan dan melihat Hasim dan ayahnya sedang memandangi miniaturnya. Mereka pun sangat kagum “Nah, ini ni, Syim, apa yang ku bilang. Kalau kita mau maju ya, harus berubah,” timpal Roni semangat. “Hasil yang patut Go Internasional.” Puji Dedi menambah semangat Mereka tampak semangat dan puas. Ayah Hasyim turut bangga akan kemampuan anaknya dan kepedulian kawan-kawannya, sehingga produksi kusen yang hampir mandeg menjadi bersinar kembali. Kebumen, 15 Juli 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERJEBAK LUMPUR

RESTORAN RUMAH KACA

Tahun Baru Kamil