TERJEBAK LUMPUR

Doni, Dito, dan Toni adalah tiga sekawan. Mereka berkawan sejak kecil, bermain bersama dan bersekolah sejak TK, SD, dan sekarang duduk di bangku SMP pun bersama. Walaupun, ketiganya memiliki sifat yang berbeda, namun mereka tetap bisa saling menghargai dan saling bantu satu sama lain. Terkadang Dito usil pada temannya, kapan pun dan dimana pun kebersamaan mereka, ada saja hal usil yang dilakukan Dito. Hingga suatu saat Dito mengalami hal yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya di saat sekolah mereka mengadakan kegiatan perkemahan. Salah satu kegiatan perkemahan adalah mencari jejak. Dito si usil pun berulah, ia ingin menjebak teman-temannya, dengan membelokkan arah jejak ke arah yang tidak sesuai. Namun tanpa disadari Dito, sebelum melakukan keusilannya, ia terperosok ke dalam lumpur. Tak disangka, lama-kelamaan lumpur itu seolah menariknya ke dalam, Dito pun berteriak sekeras-kerasnya minta tolong. Dengan ranting yang menjulur, ia coba bertahan agar lumpur yang telah menutup setengah badannya tidak menariknya lebih dalam. Ia pun kembali berteriak sekeras-kerasnya. Malam semakin larut, Toni terbangun dari tidurnya dan melihat Dito tidak berada di sampingnya. Ia berpikir mungkin di luar sedang menghangatkan tubuh. Toni keluar sambil memanggil Dito. Ternyata Dito tidak ada, namun terdengar sayup sayup orang minta tolong. Toni segera membangunkan semua teman- temannya juga gurunya. Mereka kemudian bergegas menyusuri ilalang mencari asal suara. Sampai di tempat asal suara, betapa terkejutnya, ia mendapati Dito terjebak lumpur dan sudah menutupi dadanya. Segera semua teman menolong, Dito akhirnya tertolong dan selamat dalam kondisi lemas. Setelah kejadian itu, Dito meminta maaf pada semua temannya juga gurunya karena telah pergi tanpa pamit dan niat jahat ingin menjebak temannya. Guru dan temannya akhirnya memaafkan Dito, dan berpesan agar tidak melakukan hal yang dapat membahayakan teman yang pada akhirnya membahayakan diri sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESTORAN RUMAH KACA

Tahun Baru Kamil