RESTORAN RUMAH KACA
Namaku Darmin, pekerjaanku adalah pelayan restoran Rumah Kaca, aku sebut begitu karena
ruangannya begitu mengkilap baik dinding ruangan maupun lantainya, semua seperti kaca. Satu kejadian
memalukan sekaligus lucu saat pertama aku menjalankan pekerjaanku.
Tiga hari sudah aku berada di kota Metropolitan yang tak lain adalah kota Jakarta mengikuti paman
Danu bekerja di sebuah restoran yang menyediakan banyak aneka ragam makanan dan minuman. Paman
Danu adalah adik laki-laki dari ayahku. Beliau sangat baik, ramah dan berpenampilan sederhana,
walaupun telah lama tinggal di Jakarta dan terbilang sudah kaya. Paman Danu bekerja di sebuah restoran
terkemuka di Jakarta sebagai manajer umum restoran, kira-kira sudah hampir sepuluh tahun lamanya.
Sejak dahulu paman memang ingin mengajakku ke kota untuk sekolah di sana, namun aku tidak
diperbolehkan ayahku karena masih terlalu kecil, selain itu paman juga sangat sibuk dengan pekerjaannya.
Berangkat pagi buta dan pulang sampai larut malam. Ayahku khawatir bila ikut paman akan tidak terurus.
“Min, kalau kamu sudah menamatkan sekolah SMA, kamu boleh ikut pamanmu ke kota untuk
mencari pengalaman kerja,” kata ayah saat itu.
“Iya, Yah, aku tahu, paman juga tidak begitu serius mengajakku,” jawabku.
Setelah aku menamatkan sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan, paman kebetulan pulang
kampung dan bertandang ke rumah kami. Paman sudah memiliki keluarga dan rumah sendiri. Beliau ke
rumah kami bersama dua orang anak laki-laki yang usianya 4 dan 2 tahun, juga istrinya.
“Yah, Paman Danu sudah datang ke rumah kita, Beliau memintaku untuk ikut bersamanya,
bolehkah aku ikut Paman Danu ke kota?” kataku pada ayah.
“Min, apa kamu sudah bulat mau ikut pamanmu ke kota? Kamu hanya lulusan SMA, dan tidak
punya pengalaman kerja,” jelas ayah.
“Yah, aku yakin dengan bekal ilmuku walau sedikit aku bisa menyesuaikan diri, dan menurut
paman, aku akan disalurkan kerja di sebuah restoran bersama paman, insya Allah tidak akan merepotkan
Beliau, Yah,” jawabku meyakinkan ayah.
“Baiklah, Min, ayah menuruti keinginanmu, kamu di sana jangan membuat pamanmu repot ya!”
pesan ayah padaku.
Mendengar pernyataan ayah yang membolehkanku ikut bersama Paman Danu, aku pun girang
bukan kepalang. Sudah terbayang dalam benakku akan keramain kota Jakarta, juga terbayang sudah
bagaimana aku akan mendapatkan pekerjaan yang dijanjikan paman.
Segera aku masuk kamar dan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk ke kota. Baju,
celana, tas, sepatu, dan sebagainya ku persiapkan dalam satu koper besar.
Malam hari menjelang keberangkatan, aku tidak bisa memejamkam mata, seolah tidak ingin
melewatkan kegembiraan yang akan kujalani. Sampai tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 02.00
dini hari, aku mulai mengantuk dan tertidur.
Esok hari, akhirnya, aku jadi mengikuti paman ke kota. Dengan bekal ijazah SMA aku pun
disalurkan bekerja di sebuah restoran. Untuk sementara aku dipekerjakan sebagai pelayan restoran agar
aku kebal terhadap cobaan.
Banyak hal yang tidak pernah aku sangka sebelumnya, paman juga tidak pernah menceritakan
suasana restoran di kota. Restoran tempatku bekerja sangat menakjubkan, dinding ruangan yang serba
mengkilap, lantai keramik pun mengkilap, ditambah lagi sorotan lampu ruang restoran yang begitu
gemerlap. Aku merasa bagai bekerja dalam rumah kaca.
“Ya, aku bekerja dalam rumah kaca,” pikirku.
Paman memperhatikanku sejak pagi. Banyak tingkah lakuku yang membuat paman tertawa, tapi
ditahannya.
“Min, apakah kamu senang bekerja di sini?” tanya paman ingin tahu.
“Emm, senang Paman.” jawabku sedikit malu
“Min, dalam bekerja kamu harus fokus, jangan terlalu memikirkan suasana ini, inilah restoran di
kota besar, penuh glamour, mewah, penuh semangat, tetapi tetap elegan.” jelas Paman Danu.
“Iya, Paman, terima kasih.”
“Baiklah, silakan lanjutkan, antar makanan ini ke ujung sana, sudah agak lama ia menunggu
pesanannya.”
Tanpa menjawab, aku langsung membawa makanan dan minuman di atas baki.
Saat mengantar makanan ke ujung restoran, aku banyak mendapat gunjingan dan tawaan, sesekali
aku melihat diri sendiri.
“Rasanya tak ada yang aneh, tapi mengapa mereka menertawaiku?” bisikku dalam hati.
Badanku lama-lama merasakan gemetar dan keringatpun mulai membasahi wajah dan bajuku.
Dalam pada itu, aku pun terus melangkah menuju konsumen di pojok ruang itu.
Semakin lama, suara tawa semakin mengelegar hingga...
“Wuah....ha.ha.ha” seseorang menyemprotkan minuman yang masih berada di mulutnya karena
menahan tawa. Teman satu meja dengannya pun jadi basah karenanya. Ku lihat, ia meminta maaf dan
mengelap bajunya yang basah dengan tisu di depannya. Diiringi suara tawa orang-orang di sekitanya
sambil memandang ke arahku.
Dengan percaya diri dan fokus seperti kata paman, aku melanjutkan melangkah mengantar makanan
ke tamu di ujung restoran.
Belum sampai di depam orang yang memesan makanan, aku melihat bayanganku di tembok dan di
lantai dengan langkah jinjit dan penuh kehati-hatian seperti melangkah di atas air, inilah yang membuat
mereka menertawaiku.
Setelah kuhidangkan makanannya, aku langsung pergi ke kamar mandi. Ku lihat diriku dalam
cermin.
Dasar Darmin, kamu ini orang desa, tak berpengalaman, bodoh dan tidak mau bertanya bagaimana
cara bekerja.” umpatku di depan cermin sendiri.
Tak terasa air mata menetes di pipiku yang sudah basah karena keringat dingin sejak tadi. Kuusap
dengan punggung tanganku. Ku pandangi cermin di depanku. Menunduk malu dan kembali teteskan air
mata.
“Paman, maaf aku, aku tak pantas bekerja di restoran ini, aku tak kuat dengan cobaan ini,” bisikku
dalam hati sambil manangis sesenggukan.
Sekitar tiga puluh menit aku mengunci diri di kamar mandi, sampai terdengar suara Paman Danu
mencariku. Sambil masih terisak-isak dan mengusap air mata di keningku, aku buka pintu kamar mandi.
Ku lihat Paman Danu sudah ada di dekat pintu, lalu aku keluar dari persembunyianku. Setelah ku keluar
serta menceritakan kejadian tadi, Paman Danu hanya tersenyum.
“Min, jangan putus asa, dan jangan sekali-kali hiraukan apa kata orang. Kamu harus kuat, dan
biasakanlah bekerja tanpa terpesona dalam situasi apapun.” Nasihat Paman kepadaku.
“Maafkan saya paman, ini memnag pengalaman pertamaku, restoran ini bak rumah kaca,
membuatku salah tingkah, aku pikir sedang berjalan di atas air, hingga ku jalan jinjit, kataku setengah
malu.
“Sudahlah, Min, tidak usah kamu pikrkan. Yang terpenting kamu harus kuat, fokus pada pekerjaan,
dan tetap semangat. Sekarang mari kita makan dulu sebelum istirat dan pulang”
“Secepat ini Paman?” tanyaku heran
“Ya, alhamdulilah hari ini banyak tamu yang datang dan memesan makanan, semua sudah habis,
dan kita bisa pulang lebih awal.” Jelas Paman
“Baiklah Paman, aku senang bekerja di restoran rumah kaca ini, akan ku ingat nasihat Paman, dan
fokus pada pekerjaan, pengalamanku akan membuatku lebih semangat bekerja nanti. Amin.” Jawabku
penuh semangat.
Kebumen, 21 September 2024
Komentar
Posting Komentar