Postingan

Hari Ini

Mengenang Ibu

Mengenang Ibu Karya Agus Salim Waktu begitu cepat melaju Menerjang setiap hamparan sang Bayu Mengingatkan dikau di sana Dalam kenikmatan Nirwana Ibu Kenangan indah saat bersamamu Begitu terasa dalam hidupku Mewarnai setiap langkahku Perhatianmu setiap waktu Belaian kasih sayangmu Semua kau curahkan Dengan tulus padaku Kini kau dalam buaian Sang Pencipta Akankah lagi kudapatkan Kasih dan sayangmu Yang tak lekang oleh waktu Hanya do’a yang kupanjatkan Sebagai pengantar kerinduanku Semoga Allah kan mengampunimu. Kebumen, 30 Juni 2022

Puisi "Mata Rantai"

Roda roda berputar pindahkan beban kemana saja sampai tiba saatnya turun dalam bumi persada. Roda roda berputar Satukan jiwa dan raga tertaut dalam langkah bahagia Roda roda berputar dari rangkaian mata rantai yang saling terhubung yang mungkin tak kau pedulikan.

MINIATUR KUSEN

Pagi itu suasana sangat cerah, mentari bersinar sangat indah, tumbuhan dan bunga menambah kesejukan pagi itu. Tampak di pos ronda, tiga remaja sedang asyik bercengkerama. Roni, Dedi, dan Hasyim. Mereka adalah kawan akrab sejak dibangku sekolah dasar sampai di sekolah tingkat atas. Selain mereka, bapaknya juga pernah bersama membangun sebuah usaha pembuatan kusen, sehingga tak ayal mereka pun selalu bersama. Hasyim anak pandai dan patuh pada orang tuanya, ia tidak bisa melanjutkan sekolah setelah tamat SMA karena terkendala kondisi keuangan keluarga, Hasyim hanya berada di rumah membantu kedua orang tuanya membuat kusen dari kayu. Sedangkan Roni, ia anak orang kaya, fasilitas pribadinya bisa dibilang highclass. Walau terkesan sombong, tapi ia berbudi baik dan solidaritas terhadap sesama sangat tinggi. Adapun Dedi sebatang kara, sejak tamat sekolah SMA kedua orang tuanya telah meninggal dunia, dia tinggal bersama kakek neneknya seorang pedagang sembako di pasar. Roni dan Dedi termasuk be...

BUAH KETAATAN SANG BUNGA DESA

Terkadang kamu tak bisa memilih kepada siapa jatuh cinta, karena itu terjadi begitu saja. Meski mulut berkata tidak, hati tak bisa menolak. Ungkapan itu terlintas dalam benak Amanah, seorang wanita lugu dan kurang pergaulan. Gadis desa itu tumbuh menjadi gadis yang berwajah cantik. Kata orang-orang di desanya, ia merupakan gadis kembang desa, namun karena kurangnya pergaulan, menjadikan dirinya sulit mendapatkan pendamping hidup. Pernah ada seorang pemuda kota yang bertemu dengannya ingin melamarnya, namun Amanah menolaknya walaupun ia juga ingin menerimanya. Arman yang merupakan teman dekatnya pun merasa kasihan melihat Amanah. Dulu sebenarnya Arman ingin mendekati Amanah, namun setelah bekerja di kota, Arman jatuh cinta pada seorang wanita Aceh yang wajahnya juga tak kalah cantik dengan Amanah. Di pinggir desa, sebuah taman indah biasa Amanah menyendiri, menerawang jauh nun di sana mengharap apa yang dirindukannya datang. Sambil bermain ayunan ia senandungkan lagu. “Jatuh bangun ak...

Sepatu untuk Susi

Sepatu untuk Susi Liburan sekolah hampir usai, sebentar lagi masuk sekolah, Susi berumur delapan tahun sekarang sudah naik kelas tiga sekolah dasar. Sebagai anak sekolah seusia Susi tentu ingin di saat masuk sekolah memiliki sesuatu yang baru, termasuk perlengkapan sekolah berupa alat tulis. Sore itu tiba-tiba Susi teringat jika sepatu yang dimilikinya sudah rusak, ia ingin dibelikan sepatu baru. "Ma...Mama, Susi ingin sepatu baru. boleh ya Ma?" tanya Susi pada ibunya "Lho, katanya sepatunya tidak usah beli, kemarin sudah untuk membeli perlengkapan lainnya," jawab ibu "Iya, Ma, tapi Susi ingin dibelikan sepatu baru, lihat nih, sepatunya sudah rusak." rengek Susi sambil menunjukkan sepatunya "Iya, iya, besok kalau ibu sudah punya uang untuk membelinya, ya, sementara sepatunya ibu bawa ke pasar untuk diperbaiki." ucap ibu "Ah, tidak mau, aku maunya beli baru," rengek Susi Dalam situasi itu, ibu Susi terdiam. Ia sebenarnya merasa kasiha...

Ranting Kering

Sebenarnya... Tiada mungkin kan tumbuh Tiada mungkin kan hidup Namun... Bukanlah mustahil Bila ranting kering Kan hidup kembali Bukan tak mungkin Daun dan bunga kan menemani Karna... Ranting kering itu Masih punya harapan Tuk tunbuh dan berkembang Seraya ucapkan Doa pada sang kuasa Kebumen, 4/3/25

RESTORAN RUMAH KACA

Namaku Darmin, pekerjaanku adalah pelayan restoran Rumah Kaca, aku sebut begitu karena ruangannya begitu mengkilap baik dinding ruangan maupun lantainya, semua seperti kaca. Satu kejadian memalukan sekaligus lucu saat pertama aku menjalankan pekerjaanku. Tiga hari sudah aku berada di kota Metropolitan yang tak lain adalah kota Jakarta mengikuti paman Danu bekerja di sebuah restoran yang menyediakan banyak aneka ragam makanan dan minuman. Paman Danu adalah adik laki-laki dari ayahku. Beliau sangat baik, ramah dan berpenampilan sederhana, walaupun telah lama tinggal di Jakarta dan terbilang sudah kaya. Paman Danu bekerja di sebuah restoran terkemuka di Jakarta sebagai manajer umum restoran, kira-kira sudah hampir sepuluh tahun lamanya. Sejak dahulu paman memang ingin mengajakku ke kota untuk sekolah di sana, namun aku tidak diperbolehkan ayahku karena masih terlalu kecil, selain itu paman juga sangat sibuk dengan pekerjaannya. Berangkat pagi buta dan pulang sampai larut malam. Ayahku kha...