BUAH KETAATAN SANG BUNGA DESA
Terkadang kamu tak bisa memilih kepada siapa jatuh cinta, karena itu terjadi begitu saja. Meski mulut berkata tidak, hati tak bisa menolak. Ungkapan itu terlintas dalam benak Amanah, seorang wanita lugu dan kurang pergaulan. Gadis desa itu tumbuh menjadi gadis yang berwajah cantik. Kata orang-orang di desanya, ia merupakan gadis kembang desa, namun karena kurangnya pergaulan, menjadikan dirinya sulit mendapatkan pendamping hidup. Pernah ada seorang pemuda kota yang bertemu dengannya ingin melamarnya, namun Amanah menolaknya walaupun ia juga ingin menerimanya.
Arman yang merupakan teman dekatnya pun merasa kasihan melihat Amanah. Dulu sebenarnya Arman ingin mendekati Amanah, namun setelah bekerja di kota, Arman jatuh cinta pada seorang wanita Aceh yang wajahnya juga tak kalah cantik dengan Amanah.
Di pinggir desa, sebuah taman indah biasa Amanah menyendiri, menerawang jauh nun di sana mengharap apa yang dirindukannya datang. Sambil bermain ayunan ia senandungkan lagu.
“Jatuh bangun aku mengejarmu, Namun dirimu tak mau mengerti...”
“Ala-alah, nih cewek lagi sedih ya? Nih, ku bawakan segenggam cinta, Namun kau meminta diriku, Membawakan bulan ke pangkuanmu....” ledek Sinta teman akrabnya.
“Ah, kamu Sin.! Sejak kapan kamu di belakangku?” tanya Amanah.
“Tak perlu kujawab itu..ha,ha,ha.., Amanah...Amanah... tiap hari melamun melulu.. ga boseen apa?’
“Memang kenapa?” rugi buat Lu?’ jawab Amanah.
“Amanah, apa yang ada pada dirimu itu perhatikan coba! Pantaskah seorang gadis sendirian di taman,,, ntar kalau ada cowok yang godain bagaimana? Gak takut tuh?” gurau Sinta.
“Sin, bisa gak kamu diem!” gertak Amanah.
“Oke-oke. Sekarang aku ingin tahu nih, Am. Apa yang sedang kamu pikirkan? Hmmm bisa kutebak, pacarkan? Ha.ha.ha!” ledek Sinta lagi sambil merangkul dan membisikkannya di telinga Amanah.
‘Sin, bisa gak kamu diem!” gertak Amanah sambil melepas dekapan Sinta dan beranjak pergi meninggalkannya,
“Alah.. gitu aja marah! Am, dengerin dulu!” Sinta berlari mengejar Amanah,
Sinta memang biasa meledek teman akrabnya, bahkan sampai temannya menangispun pernah, seperti saat meledek Husni di depan kelas pada seorang teman cowoknya. Dikatakannya Husni jatuh cinta pada Aldo, padahal tidak, si Aldo justru percaya pada omongan Sinta, yah terang saja Husni malu dan akhirnya menangis.
“Am, tunggu, ..! aduh..!!” tiba-tiba Sinta terjatuh.
Amanah menoleh ke belakang, ia berbalik dan menolong Sinta.
“Kamu tidak apa-apa, Sin?’ tanya Amanah cemas.
“Ah, lupain saja, Am, aku tidak apa-apa.” Sinta coba bangkit.
“Pelan-pelan, Sin, kayaknya kakimu terkilir deh!, aku antar pulang ya?” kata Amanah
“Makasih, Am. kamu memang baik.”
“Sudah, sekarang ke rumahku dulu yang dekat, nanti kuobati lukamu ya?” bujuk Amanah.
Sambil masih merasakan nyeri di kaki, Amanah memapahnya ke rumah. Sampai di teras rumah, Amanah masuk dan mengambilkan obat luka. Namun sampai di ruang tamu, ayahnya sedang menerima tamu dua orang cowok setengah baya.
“Assalamu’alaikum,” Amanah masuk dan kemudian mencium tangan ayahnya lalu buru-buru masuk mencari obat.
“Nduk, sini dulu, ada tamu ayah ingin bertemu kamu loh!” panggil ayah Amanah.
“Ya, Yah sebentar,” sahut Amanah dari dalam.
Setelah keluar dari dalam rumah Amanah langsung ke luar rumah sambil membawa obat luka.
“Nduk, duduk sini, ayah ingin mengenalkan tamu ayah padamu!” ucap ayah kemudian.
“Maaf, Yah, aku harus ke luar dulu mengobati temanku,” jawab Amanah sambil menundukkan kepala tak mau melihat tamu ayah.
Kedua tamu ayah sejak awal memperhatikan Amanah si bunga desa, di benak mereka merasakan kecocokan dengannya dan menganggap gadis itu mau menerimanya.
“Maaf Pak Danu, apakah itu putri Bapak?” Tanya salah satu tamu.
“Oh. Iya Pak Fahri, ia Amanah putriku, yah begitulah, maklum gadis lugu Pak!” jawab pak Danu pada tamunya yang bernama pak Fahri.
“Cantik ya, Min?” Kata Pak Fahri pada Muknin keponakannya.
“Iya, paman, cantik sekali putri pak Danu,” bisik Mukmin malu-malu.
Mukmin merupakan anak semata wayang Pak Haris, seorang pedagang kaya yang sukses namun tidak sombong. Ia dikenal suka bersedekah dan membantu kebutuhan orang yang kesusahan. Setelah Pak Haris meninggal, usahanya digantikan oleh Mukmin, namun karena ia tidak memiliki keahlian seperti ayahnya, menjadikan usaha ayahnya bangkrut. Kini Mukmin berusaha sendiri dalam bidang yang ia senangi sejak kecil yaitu komputer.
Sementara di luar rumah, Amanah sedang mengobati luka Santi, setelah selesai, lalu mengantarnya pulang.
“Maaf, Yah, aku pergi dulu mengantar temanku pulang, kasihan, ia baru jatuh tadi,” pinta Amanah pada ayahnya.
“Nduk, ayah mau bicara sebentar bisa?” sahut ayah.
“Maaf, Yah, aku harus mengantar Santi dulu.” jawab Amanah tergesa-gesa dan malu dihadapan ayahnya.
“Maaf, pak Danu, tidak apa-apa, biarkan putri Bapak menyelesaikan dulu tugasnya,” cegah pak Fahri pada Pak Danu yang terlihat agak marah.
Tanpa basa-basi, Amanah langsung pergi meninggalkan ayah dan tamunya. Tak berapa lama kemudian, Pak Fahri dan Mukmin keponakannya pamit pulang.
“Maaf, pak Danu, bukannya kami tidak sabar menunggu, tetapi karena kami ada kepentingan lain, kami mohon pamit dulu, lain waktu kami datang lagi.” Ucap pak Fahri sambil berdiri menyalami Pak Danu dan pergi keluar diikuti Mukmin keponakannya.
Pak Danu, tak bisa mencegah tamunya, hanya berharap keajaiban akan datang padanya. Dalam pandangan hatinya, ia sangat cocok dengan keponakan Pak Fahri. Tak terasa matanya berkaca-kaca dan akhirnya setetes air mulai jatuh membasahi pipinya yang mulai keriput.
Sementara Amanah telah sampai di rumah Santi, dan memapahnya sampai ke ruang tamu.
“Sudah, sudah Am, di ruang tamu saja, kamu cepat pulang ya, kayaknya ku dengar di rumahmu sedang ada tamu, kemungkinan meunggu kamu loh!” kata Santi.
“Ah, tidak juga San, itu Cuma tamu ayah, yah memang sih, tadi ayah memintaku berkenalan, tapi sudahlah, aku kasihan melihatmu, jadi aku ijin sama ayahku mengantarmu pulang dulu.” Jawab Amanah.
“Iya, iya terimakasih, nah sekarang kan aku sudah sampai rumah, kenapa kamu tak segera pulang?” Tanya Santi heran.
“Aku takut, San, aku kan tidak pernah berkenalan dengan cowok, nanti saja dulu, please, aku ingin ngobrol dulu sama kamu ya!”
“Ngobrolin yang tadi senandungmu?” ledek Santi.
Amanah hanya terdiam, ia mendesah, matanya menerawang jauh ke angkasa, ada yang ingin diceritakannya tetapi malu, dan tak kuasa, sampai titik-titik air mulai menetes dari matanya yang sayu.
“Nah, nah, tuh kan, mewek lagi bisanya, cerita dong Am, jangan hanya mewek.”
Tetesan air mata Amanah semakin deras, tanpa banyak bicara ia peluk Santi, sahabatnya erat-erat.
“San.. haruskah aku seperti ini, apa yang harus kulakukan agar ayahku mengerti,” desah Amanah sambil terus menangis.
Santi hanya terdiam, dan mengelus punggungnya, seperti ikut merasakan pedihnya hati sahabatnya itu.
“Am, setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan, ada laki-laki ada wanita, ada sedih ada gembira, semua saling melengkapi satu sama lain. Aku sebagai sahabat hanya bisa mendoakan agar apa yang kamu harapkan tercapai. Bersabarlah, insya Allah kamu akan mendapatlkan jodoh yang terbaik.”
“Iya, San, aku mengerti, terima kasih. Jujur San, sebenarnya aku pernah mencintai seorang lelaki terbaik dalam pandanganku, ia orangnya bertanggungjawab, berpandangan luas, dan penuh perhatian, tetapi aku ragu, tak punya keberanian untuk menerima cintanya. Itu karena, aku takut akan mengecewakannya, aku tidak punya pengalaman, tidak punya pekerjaan, tidak punya apa-apa.” keluh Amanah.
“Am, aku dulu pun demikian adanya, rasa takut mengecewakan lelaki yang kucinta, namun akhirnya segalanya kuserahkan pada Yang Maha Kuasa. Tidak ada yang terbaik di dunia ini, hanyalah saling melengkapi satu sama lain. Am, umur kita semakin bertambah tua, umur dua puluh lima tahun merupakan usia matang bagi wanita untuk berumah tangga, jangan kau tutup hatimu, jangan kecewakan ayahmu, berikan pintu hatimu untuk lelaki yang terbaik menurutmu” Santi menasihatinya.
“Baiklah, San, aku mengerti sekarang, aku hanya punya satu kekuatan yaitu mematuhi ayahku, aku sadar, tak ada yang dapat ku banggakan dari diriku, selain ayahku. Aku salut padamu, San, kamu mampu memiliki banyak pengetahuan tentang itu, sekolahmu tinggi, banyak bergaul dengan orang lain dan hidup bermasyarakat dengan baik, sedangkan aku hanya gadis rumahan, sekolahpun tidak, apalagi pengalaman lain.” Sesal Amanah.
“Amanah, sahabatku, jangan menyesali hal yang tidak perlu kau sesali, kamu juga istimewa di hadapanku, kamu termasuk gadis idola, cantik dan penurut pada orang tua, yakinlah, ayahmu adalah sosok ayah yang baik di keluargamu. Dan tak mungkin ayahmu ingin menjadikanmu sengsara hidupnya. Coba kamu ingat lagi, sudah berapa lama ayahmu rela keluar dari pekerjaannya di kota setelah ibumu meninggal dunia? Sejak kamu masih di sekolah dasar bukan?” Sambung Santi menyadarkannya.
Amanah menyeka air matanya yang terus membasahi pipi, dan..
“Baiklah, San, terimakasih, kamu telah menyadarkanku, kalau begitu aku pamit pulang dulu, takut ayahku akan marah”
“Iya, Am, aku selalu mendoakan yang terbaik buatmu.”
Amanah pergi meninggalkan Santi sendirian, ia merasa punya kekuatan batin untuk melangkah maju dalam kehidupannya. Sementara Santi tersenyum bahagia, sahabanya telah mulai tumbuh kepercayaan diri.
Dari kejauhan Pak Danu terlihat bersandar di dinding pintu rumahnya, ada perasaan kesal dan marah yang masih menyelimuti hatinya, Amanah mulai memasuki halaman rumahnya dan melihat ayahnya masih di luar, terlintas rasa ragu tuk melangkah pulang.
“Apakah ayah akan marah padaku?’ apakah ayah akan menghukumku? Ya Allah lindungilah aku? Bisik Amanah dalam hati sambil melangkah pelan menuju rumah.
“Assalamu’alaikum, Ayah!” ucap Amanah pada ayahnya.
Ayah Amanah menoleh ke arah datangnya suara. Amanah langsung memeluk ayahnya dan...
“Ayah, maafkan Amanah, Yah, Amanah telah menyakiti hati ayah, Amanah anak yang tidak patuh lagi pada ayah, maafkan aku” ucap Amanah sambil menangis.
“Nduk, sudahlah, tidak apa-apa, ayah juga menyadari, ada hal penting yang memang harus kamu lakukan saat itu, ayah hanya takut akan nasibmu kelak, ayah sudah cukup tua untuk selalu menjagamu, semenjak ibumu meninggal lima belas tahun yang lalu, ayah selalu mencegahmu pergi jauh dariku, hal itu karena ayah takut kehilangan dirimu. Itulah kesalahan ayah, sehingga kamu kurang mengenal dunia luar, tidak memiliki teman tempat bercanda dan bertukar pikiran, ayah minta maaf ya, Nduk!’ peluk erat ayah sambil meneteskan air mata.
“Ayah sebaiknya kita masuk, aku buatkan teh ya, Yah, setelah itu, Amanah ingin shalat Asar dulu, Amanah khawatir lupa tidak shalat.” Sahut Amanah melepaskan pelukannya dan pergi ke dapur.
Pak Danu kemudian duduk di kursi sambil menyulut rokok kesukaannya. Setelah disuguhi teh panas, ia merenung tentang kehidupan putrinya kelak.
“Putriku, harapan terbesar ayah padamu adalah agar kamu tahu bahwa ayah sangat mencintaimu. Hari-hari kujalani agar kamu mengetahui bahwa ayahnmu selalu ada setiap kali kamu butuhkan. Umurku telah melebihi lima puluh tahun, berharap segera menikahkanmu dengan lelaki terbaik pilihanmu.” renung ayah Amanah.
Seperempat jam kemudian, Amanah keluar dari kamar, kemudian duduk di samping ayahnya yang terlihat sudah mulai renta.
“Ayah, Amanah ingin mengatakan sesuatu. Amanah ingin membahagiakan ayah, namun tidak tahu harus bagaimana, kecuali hanya meminta do’a restu ayah dan menuruti perintah ayah, Amanah siap untuk ayah,” ucap Amanah sang putri pada ayahnya.
“Nduk, ayah sudah tua, kulit tubuh sudah mulai keriput, badan tak sekuat dulu lagi, ayah ingin kamu bisa lebih bahagia. Lihatlah, Nduk teman-teman sebayamu sudah banyak yang memiliki buah hati, apakah kamu tidak terpikirkan ke arah itu, Nduk?”
“Maafkan aku, Yah, aku hanya patuh pada ayah, sebenarnya dulu pernah ada seorang lelaki yang menurut orang lain baik, namun Amanah tidak bisa membohongi diri, Amanah tidak bisa menerima lelaki itu, Yah, entahlah kenapa?” cerita Amanah.
“Nduk, ayah tidak memandang laki-laki yang kaya ataupun memiliki kedudukan tinggi sebagai pendampingmu, tetapi ayah ingin merestui pilihan putriku, tadi siang pak Fahri adiknya pak Haris teman ayah di kantor, datang bersama keponakannya, ingin berkenalan dengan kamu, tetapi mungkin bukan jodohnya, sehingga ada hal yang menghalangi perkenalan dia denganmu. Ayah pahami itu. Untuk itu, ayah sadar, dan menyerahkan segalanya pada Allah SWT dan juga dirimu. Ayah hanya berdo’a, semoga nanti kamu menemukan lelaki yang terbaik untukmu. Ucap Pak Danu.
“Iya, Yah, Amin. Amanah mengerti, Amanah tidak ingin kejadian tadi siang terulang lagi.” Jawab Amanah.
Adzan maghrib telah berkumandang, Pak Danu dan putrinya kemudian pergi ke masjid menjalanjkan shalat berjamaah.
Tiga hari berselang saat Amanah sedang berada di taman, ia dikagetkan dengan seorang yang menghampirinya.
“Amanah...!” panggil seseorang dari belakangnya.
Amanah terhentak dari kesendiriannya, dan menoleh ke belakang, dilihatnya seorang pemuda yang wajahnya tidak terlalu tampan, tetapi nemiliki tato di kedua lengannya. Tampak sangar apalagi kumisnya yang tebal, dan berbadan kekar tampak seperti jagoan.
“Amanah, apa kamu lupa padaku?” Tanya seorang pemuda yang kini di hadapannya.
“Ma..maaf, siapa ya?” Tanya Amanah gugup dan merasa takut.
“Amanah, ingatkah saat dulu kamu di sekolah dasar begitu perhatian sekali padaku seperti saudara sendiri?” kata pemuda itu mengingatkan.
Lama amanah mengingat ingat nama pemuda sangar di hadapannya..
“Amanah, kamu benar-benar lupa padaku?’ tanya pemuda lagi
“Rizal...apakah kamu ini Rizal?” Tanyanya
“Yah...kamu benar Amanah, ini aku Rizal, aku baru pulang dari Madura dan ke rumahmu, tetapi kamu tidak ada, kata ayahmu kamu ada di taman ini.” Jelas pemuda itu yang ternyata Rizal teman Amanah ketika di sekolah dasar.
Rizal memang teman Amanah saat di sekolah dasar, keluarganya terbilang cukup berada di desanya. Selepas tamat sekolah dasar Rizal tinggal bersama kakeknya di Madura, sampai tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan. Namun karena kurangnya perhatian orang tua menjadikannya bergaul dengan permuda yang kurang baik. Terkadang ikut mabuk-mabukan, begadang, dan bertato.
“Apakah kamu takut dengan penampilanku seperti ini, Amanah?’ tanya Rizal
“Aku..aku..” Amanah gugup.
“Baiklah tidak apa Amanah, aku memang begini, tetapi demi kamu, aku ingin merubah diriku seperti keinginanmu!” ucapnya.
“Aku menyadari, aku memang banyak salah dalam menapaki hidup, tetapi teringat dirimu, menjadikanku sadar dan ingin bertaubat.” sambungnya lagi.
Amanah semakin bingung maksud Rizal berkata begitu, Amanah memang agak takut dengan penampilan Rizal, ia sedikit melangkahkan kakinya ke belakang.
“Maaf, aku belum yakin, maafkan aku.” jawab Amanah sambil pergi meninggalkan pemuda tersebut.
Sementara Rizal hanya bisa melepaskan kepergian Amanah, diredamnya rasa cintanya yang menggebu bak anak panah yang keuar dari busur.
Sesampainya di rumah, pak Danu heran melihat tingkah putrinya yang merasa ketakutan ia mengurung diri di kamar. Pak Danu kemudian memanggilnya.
“Nduk. Ayo keluar dulu, kita makan bersama, ni ayah baru saja mendapat rezeki makanan.” Bujuk ayah Amanah.
“Iya, Yah sebentar!’ jawabnya dari dalam kamar.
Setelah keluar kamar, Amanah duduk di sebelah ayahnya untuk makan bersama, setelah selesai makan, Amanah mencuci piringnya, lalu menuju ke kamar lagi.
“Nduk,, sini dulu, ayah mau bicara!” panggil pak Danu pada putrinya yang sudah di depan pintu kamar.
Tanpa menjawab, ia berbalik dan duduk di sebelah ayahnya. Pak Danu memeperhatikan putrinya.
“Nduk, ada apa? Apa yang menyebabkan kamu begini?” tanya pak Danu.
“Tidak apa apa, Yah, Amanah hanya kurang sehat saja.
“Jangan berbohong pada ayah, apakah kamu bertemu dengan sesorang yang baru pulang dari Madura?” Kata Pak Danu.
“Ayah kenal dengan orang itu?” Tanya Amanah kemudian.
“Tadi memang dia datang ke sini, dia bilang teman kamu saat di sekolah dasar dulu. Dia anaknya pak Abdullah yang rumahnya di tepi sawah itu. Apa yang dia perbuat sama kamu Nduk? Sampai kamu ketakutan.” Kata ayah.
“Maaf, Yah, dia tidak berbuat macam-macam sama Amanah, tetapi Amanah takut.
“Lho..lho. Nduk kenapa takut?, jangan memandang orang dari luarnya saja, mungkin dari sisi luar dia orangnya aneh, norak, bertato dan menakutkan, tetapi siapa tahu hatinya begitu tulus dan bersih, serta sayang pada sesama.” Terang pak Danu.
“Nduk, kamu sudah besar, sudah dewasa, mestinya bisa membedakan, mana yang baik dan mana yang tidak baik, kebaikan manusia itu dilihat dari perilaku dan hatinya. lanjut pak Danu lagi.
Beberapa menit kemudian terdengar orang mengucap salam.
“Assalamu’alaikum.!” kata orang dari luar.
“Wa’alaikumsalam?” Jawab pak Danu sambil beranjak keluar dari ruang makan.
Dilihatnya dua orang berkunjung ke rumahnya sambil membawa bingkisan.
“Pak Abdullah? Mari masuk Pak!, Mohon maaf ini ruangannya berantakan,” ucap Pak Danu.
“Oh, iya Pak, tidak apa. Maaf menganggu kenyamana Bapak,” kata Pak Abdullah.
“Mari silakan duduk Pak! Nduk, tolong buatkan minum untuk tamu kita ya!” Perintah Pak Danu pada putrinya.
Sepuluh menit kemudian Amanah keluar sambil membawa dua gelas minuman, tak di sangka olehnya, begitu sampai di ruang tamu.
“Krompyang...!” gelas air minum jatuh di hadapan tamu ayah.
Amanah kaget bukan kepalang, ia melihat sosok Rizal yang tadi pagi terrlihat sangar, kini berubah jadi pemuda yang tampan, bersih tanpa tato di lengannya, berkunjung kerumahnya.
“Ma..ma..maaf, saya tidak sengaja, menjatuhkan minuman ini!” ucap Amanah.
“Nduk..nduk, apalagi kamu ini, makanya hati-hati dan fokus jangan melamun saat membawa minuman!” ucap Pak Danu.
Amanah merasa malu dan menyesal, ia buru-buru mengambil alat pel dan sapu untuk membersihkannya. Pak Abdullah dan anaknya memperhatikan putri pak Danu sambil tersenyum senyum.
“Ehm.. maaf Pak Abdullah, nanti biar putri saya mengambilkan air minum lagi.” Kata Pak Danu.
“Ah, tidak apa-apa Pak Danu, begini saja, saya dengan anak saya datang kemari sebenarnya ingin bertemu dengan Pak Danu dan putrinya, ada hal penting yang ingin saya utarakan.”
“Hal penting? Apa itu?” tanya Pak Danu pemasaran.
“Begini, Pak, sebelumnya kenalkan dulu, ini anak saya Ahmad Rizal, ia sengaja pulang ke desa karena ingin bertemu putri Bapak. Apakah putri Bapak sudah ada yang punya? Maksudnya calon suami, kalau belum saya ingin melamar untuk anak saya. Bagaimana Pak Danu?” kata Pak Abdullah.
“Hmm, bagaimana ya? Memang putri saya belum punya pasangan, tapi kemarin juga ada yang melamar belum sempat dijawab olehnya. Nanti saya bicarakan dengannya ya.” Jawab Pak Danu.
“Baiklah Pak Danu, kalau begitu, kami pamit dulu. Kami menunggu jawaban Pak Danu, terima kasih. Assalamualaikum.” Kata Pak Abdullah sambil beranjak pulang.
“Wa’alaikumsalam, terima kasih kedatangannya Pak Abdullah, sekali lagi saya minta maaf bila pak Abdullah tidak berkenan atas apa yang terjadi tadi” jawab Pak Danu.
Keesokan harinya, Pak Danu dan putrinya duduk di ruang tamu sambil berbincang-bincang.
“Nduk, kamu sudah dewasa, teman-temanmu juga banyak yang sudah punya anak, ayah ingin kamu bisa memilih satu tamu ayah yang sudah datang ingin melamarmu. Bagaimana, apakah kamu siap, Nduk?” kata ayah
“Amanah menyerahkan semua pada ayah, Amanah tidak mau mengecewakan ayah.” kata Amanah.
“Baiklah Nduk, kalau menurut ayah, Mukmin anaknya almarhum pak Haris, lebih baik daripada putranya Pak Abdullah, bukan karena ayah pernah hutang budi sama almarhum pak Haris dulu, tetapi Mukmin lebih bisa bersikap dewasa, sosok yang bertanggungjawab dan mandiri, walaupun setelah ditinggal ayahnya, dia kini berusaha sendiri. Apakah kamu keberatan, Nduk?” tanya Pak Danu.
“Amanah ikut saja keputusan ayah, kalau memang Mas Mukmin lelaki terbaik menurut ayah, Amanah ikhlas menerimanya,” jawab Amanah.
“Alhamdulilah, ayah senang mendengarnya, ayah berdo’a untukmu, Nduk!, semoga kamu anak yang sholihah, Amin. Besok ayah kabari keduanya ya!” kata ayah menutup pembicaraan.
Enam bulan kemudian, Amanah melangsungkan pernikahannya dengan Mukmin putra dari almarhum Pak Haris. Di pesta perkawinan, ia mengundang semua teman-temannya, termasuk Rizal yang juga melamarnya, tetapi Rizal tidak terlihat. Menurut tetangganya, setelah tahu lamarannya ditolak, ia marah besar, semua barang di rumahnya banyak yang dibanting banting, kemudian pergi ke Madura lagi.
Ya Allah, engkau telah memilihkan lelaki terbaik untukku, melalui ayah yang kucintai, berilah aku petunjuk-Mu agar aku bisa menjalani amanah-Mu!’ batin Amanah.
Setahun telah berlalu, kini Amanah telah dikaruniai seorang anak yang tampan dan lucu. Mereka kini hidup bahagia bersama. Itulah buah dari ketaatan pada orang tuanya.
TAMAT
Komentar
Posting Komentar