Pertemanan karya : Wafda Nauratun Nadzifah
Hari ini adalah hari pertama Azva memasuki sekolah di jenjang menengah pertama. Azva merasa senang dan bersemangat untuk melanjutkan pendidikannya setelah berada di sekolah dasar. Tapi, Azva juga merasa gugup dan takut akan kembali di bully seperti dulu. Walaupun begitu, Azva harus mengalahkan rasa gugup dan takut yang kemudian menumbuhkan rasa percaya diri.
Azva berangkat menggunakan sepedanya. Setelah beberapa menit perjalanan, Azva sampai di sekolah. Ia memarkirkan sepedanya, lalu melangkah memasuki bangunan tersebut untuk mencari kelasnya. Setelah itu, Azva dan siswa siswi lainnya berjalan menuju lapangan karena apel akan segera dimulai. Saat apel, seseorang mengajaknya berteman. Dia bernama Kiya.
Hari ini hari kedua Azva menjadi siswi baru SMP Tunas Bangsa. Hubungannya dengan Kiya di sekolah juga sangat baik, Kiya memiliki sifat friendly sehingga orang yang berbicara dengannya merasa senang. Saat bel istirahat berbunyi, Kiya mengajakku ke kantin. Lalu dia pergi untuk menuju ke toilet. Sudah 15 menit Azva menunggu, Kiya belum juga datang. Tiba-tiba datang tiga orang perempuan berjalan ke arahnya. Sebentar, sepertinya Azva mengenali mereka. Oh tidak! Mereka adalah orang yang suka membully nya di SD dulu. Bagaimana bisa ia bertemu dengan mereka disini?.
“ Hai Azva, gimana kabar lo? Masih inget kita? “ tanya Kaesha. Dari ketiga orang tersebut, ialah yang paling mencolok dengan keanekaragaman kenakalan yang ia buat. Tetapi karena uangnya yang banyak untuk bisa menyogok para guru, ia tidak bisa dikeluarkan dari sekolah.
“ Jawab dong! Sombong amat lo! “ ucapnya
“ Bisu kali! “ tambah Dena, sahabat Kaesha. Sedangkan satunya, ia bernama Kim.
“ Azva! sorry lama. Eh, ini temen kamu? “ Tanya Kiya yang datang tiba-tiba.
“ Udah punya temen ternyata “ Ucap Dena.
“ Kali ini lo bisa lolos. Tapi liat aja suatu saat “ Ancam Kaesha, lalu pergi diikuti kedua sahabatnya.
Keesokan harinya, kelas kami akan menampilkan got talent yang akan ditampilkan oleh Kiya dan Gefira. Mereka akan menyanyi lagu dengan judul “Monokrom”. Saat Kiya akan tampil, dia menyuruh Azva untuk merekamnya. Azva mengambil posisi yang tepat untuk merekam mereka tetapi, tiba-tiba seseorang menariknya ke kamar mandi.
“ Kenapa kalian bawa aku ke sini? “ Tanya Azva saat melihat wajah Kaesha.
“ Mau ajak lo main “ Jawabnya.
“ Sekarang aja sha “ Ucap Dena.
“ Kalian mau apa!? “ Tanya Azva. Belum sempat mereka menjawab, Azva merasakan perih di bagian telapak tangan yang terikat di belakang punggung. Sepertinya mereka menggores cutter di telapak tangannya. Azva mengerang kesakitan.
“ Biasa aja kali, itu belum seberapa anak sok pinter! “ Ucap Kaesha.
“ Lo belum mandi kan? Nih mandi dulu! “ Ucap Dena disusul siraman seember air bekas pel.
“ Yah tambah bau! Hahahahahah! “ Ucap mereka serempak. Azva menatap mereka tajam.
“ Apa liat liat!? “ Bentak Kaesha.
“ Aku salah apa sama kalian sampe harus diginiin!? Dari dulu sama aja! “ Bentak Azva
“ Lo masih nanya? Udah jelas lo itu sok pinter sampe di manja sama guru! Gw ga suka liat lo seneng! lo itu bukan orang kaya atau terpandang kaya gw! lo cuma orang miskin yang di banggain guru-guru! “ Jawab Kaesha lantang. Azva masih menatapnya. azva tidak percaya hal sepele seperti itu yang membuatnya di bully oleh mereka. Tapi kenapa?.
“ Eh! Ada guru! Ada guru! Cepet kabur! “ Ucap Kim yang menjaga pintu kamar mandi. Setelah itu, guru yang sedang lewat melihat keributan yang terjadi, datang menghampiri Azva dan membawanya ke UKS.
Hari ini hari keempat Azva berada di sekolah barunya dan kami sudah melaksanakan pembelajaran. Seperti biasa, setelah pelajaran pertama selesai Azva dan Kiya menuju kantin. Saat sedang duduk, seseorang menuangkan air teh di atas kepala Azva. Reflek Azva berdiri dan menatap orang tersebut.
“ Yah, sengaja “ Ucap Kaesha.
“ Kamu ngapain!? “ Bentak Kiya. Tanpa basa-basi, Kiya mengambil segelas jus jeruk dan menumpahkannya di baju Kaesha.
“ Apa apaan lo! “ Bentak Kaesha.
“ Eh, maaf ya sengaja “ Ucap Kiya mengejek.
“ Udah Ki “ kata Azva melerai.
“ Dia itu ga sopan sama kamu Va! “ Tentangnya.
“ Gapapa, jangan di besar-besarin masalahnya. Aku gapapa Kiya “ Ucap Azva menenangkan.
“ Kita pergi aja ya “ Lanjutnya. Lalu kami pergi meninggalkan mereka yang masih menatap kami dengan wajah kesal.
Keesokan harinya saat dikelas, Kiya belum menunjukkan batang hidungnya. Azva duduk sembari membuka buku catatan.
“ Eh, katanya perusahaan Armada bangkrut tau!” Kata seorang perempuan yang duduk dibelakangku.
“ Yang bener? Bukannya itu perusahaan papanya Kaesha?” Tanya temannya.
“ Iya! Makanya itu, pasti Kaes dijauhin sama temen-temennya “ Jawab perempuan itu.
“ Iyalah, orang mereka Cuma mau uangnya doang” Balas temannya lagi. Azva mendengar percakapan mereka dari depan. Apa? Bangkrut? batinnya.
Saat istirahat, Azva melihat ada keributan di kantin. Karena penasaran, Azva menghampirinya untuk melihat .
“ Minggir! Ini tempat gw! “ Bentak Dena kepada Kaesha
“ Kenapa lo kaya gini na!?” Balas Kaesha tak kalah keras.
“ Gw temenan sama lo itu cuma karena harta! Tapi sekarang lo kan udah miskin! “ Ucap Dena. Perkataan Dena membuat Kaesha kesal. Ia juga dikelilingi oleh tawaan seluruh siswa. Ia menunduk malu, lalu pergi meninggalkan kantin.
Saat sedang berjalan, Azva mendengar suara isakan dari arah gudang. Azva menghampiri suara tersebut. Ternyata itu adalah isakan dari Kaesha. Ia sedang duduk meringkuk dan menangis di depan pintu gudang menutupi mukanya dengan tangan.
“ Kaesha? “ Kata Azva.
“ Kalian ngapain disini!? Mau nertawain gw juga!? “ Bentak Kaesha disela isak tangisnya.
“ Kita ga mungkin kaya gitu Kaesha, Kita semua kan teman “ Ucap Kiya.
“ Teman? gw aja ga pernah anggap lo temen “ Ucap Kaesha
“ Tapi kita anggap kamu temen kok “ Ucap Azva.
“ Disaat gw jatuh, orang yang anggap gw temen aja ninggalin gw. Kenapa orang yang gak gw anggep sebagai temen malah nolong gw? “ Ucap Kaesha. Ia mendongak. Memperlihatkan wajahnya yang sembab karena air mata.
“ Karena teman selalu ada disaat suka maupun duka. Teman adalah orang yang selalu ada disaat kita membutuhkannya “ Jelas Azva.
“ Jangan sedih lagi dong! Mulai sekarang kita teman ya? “ Ucap Kiya.
“ T-tapi gw dah nyakitin kalian” Ucap Kaesha. Ia menundukkan kepalanya malu.
“ Udah kita maafin kok “ Jawab Azva. Tiba-tiba Kaesha memeluk kami erat.
“ M-makasih ya Va, Ki “ Ucap Kaesha. Kami tersenyum senang. Sejak saat itu kami selalu menemaninya. Perusahaan papanya juga sudah membaik. Lalu, Dena dan Kim juga sudah meminta maaf kepada Kaesha karena sudah membohonginya. Akhirnya kami hidup dengan bahagia.
The end
Komentar
Posting Komentar