Cerpen "Mengais Lailatur Qodr"
Bulan Ramadhan yang sedang dijalani Rahmat merupakan permulaan ia melaksanakan ibadah dengan sempurna. Betapa tidak, bagi anak seusia dirinya sangat jarang yang mau dan mampu melaksanakannya hal ini karena usianya baru tujuh tahun.
Rahmat merupakan anak ketiga pasangan Salman dan Farah, ia termasuk anak kesayangannya. Si bungsu yang ceria begitulah menurur ayah ibunya.
"Bu, kenapa sih harus berpuasa?" tanya Rahmat.
"Puasa itu adalah kewajiban seorang muslim untuk menjankannya di bulan Ramadhan yaitu menahan dari makan dan minum sejak fajae sodik hingga terbenam matahari, puasa merupakan rukun Islam yang ketiga" jawab ibunya.
"Lalu kenapa anak kecil sepertiku juga haeus berpuasa? Padahal teman-temanku di kelas masih banyak yang belum melakukannya." Tanyanya lagi.
"Puasa itu adalah rukun Islam yang keempat wajib dilaksanakan oleh seluruh umar Islam, orang dewasa maupun anak-anak.. Di bulan puasa ini banyak sekali ibadah yang dilipargandakan pahalanya oleh Allah SWT." sambung ibu.
"Oh iya, Bu. malam hari shalat isya'nya kok banyak sekali, ya Bu.? Apakah di selain bulan Ramadhan boleh demikian? Rahmat semakin penasaran.
Dengan tersenyum, Bu Farah lalu mengangkat tubuh anak bungsunya dan meletakkan di pangkuannya. Sambil mencium pipinya dan memeluk tubuhnya yang mungil,
"Anak pintar Ibu kasih tahu. Bulan Ramadhan ini, bulan yang sangat mulia dinantikan semua umat Islam, di dalamnya semua kegiatan ibadah dilipargandakan pahalanya. Bahkan ada satu malam yang sangat dirahasiakan Allah wakru dan harinya, yaitu malam Lailatul Qodr. Siapapun orangnya yang mendapati waktu tersebut maka akan mendapatkan ampunan-Nya dan pahala ibadahnya bagaikan ibadah seribu bulan. Maka, semua umat Islam menginginkan dapat bertemu waktu tersebut dengan mengais Lailarul Qodr."
"Rahmat.... oh, ternyata dia tertidur di pangkuanku" bisiknya dalam hati seraya membelai tubunya yang mungil.
Bu Farah kemudian membawanya ke kamar tidur dan membaringkannya.
Komentar
Posting Komentar