Cerpen "Kuikhlaskan Untuk Pujaanku"
Setiap waktu kutermenung di pojok ruang kamarku, menatap langit sambil beripiki siapakah engkau? ini terjadi sebulan yang lalu, saat pertama kalinya ku mengenal sosok berwajah manis nan elok yang sedang berjalan di antara orang-orang yang berbelanja di pasar. kala itu, tak sengaja kuinjak gaunnya yang terjuntai ke tanah hingga membuatnya hampir jatuh karenaku.
"Maaf, Mba! tak sengaja." begitulah kataku spontan sambil menarik kakiku.
"Oh iya, Mas, tidak apa-apa," tanpa banyak bicara langsung pergi meninggalkanku
Peristiwa itu sungguh tak ku sangka, ada seseorang yang sangat anggun dan menawan di antara puluhan orang berdesakan di pasar.
"Inilah pujaanku." gumamku dalam hati
Ku lirik jam dinding di kamarku, jarum panjang tlah berada di angka duabelas, sedangkan jarum pendek tlah di angka 7, aku belum juga bngkit dari tempat tidurku, terasa berat untuk berdiri melangkahkan kaki menuju kamar mandi. tak ingin kulewatkan lagi lamunanku saat bertemu gadis pujaanku.
seperempat jam kemudian terdengan pintu kamar terbuka pelan-pelan, terlihat perempuan renta membuka pintu kamar dan menghampiriku.
"Fandi, sudah siang, Nak, ayo lekas berangkat kerja?" sapa perempuan renta yang tak lain ibuku yang selalu mengingatkanku.
"Iya, ibu, maafkan aku" jawabku seraya beranjak pergi ke kamar mandi
pagi itu di perjalanan menuju kantor yang melewati pasar induk, ku rasakan debaran jiwa, seakan perempuan itu kan kutemui di sana. ku berhenti sejenak laju kendaraanku, kutoleh pasar di samping kananku menelusuri orang-orang yang lalu lalang. Lama kupandang kerumunan orang, tak kutemui sorang perempuan pujaanku. Kulaju kendaraanku beberapa meter terhenti lagi, saat melewati lampu merah di perempatan jalan. Tak kusangka, gadis pujaanku melintas dibarisan orang menyeberang. Seakan tak percaya, ia lambaikan tangan ke arahku, akupun sambut lambaiannya.
"Tin, tin, tiiiin"! suara klason kendaraan mengagetkanku agar aku segera melaju. Tanpa sadar ku injak remku sambil kuputar gas motorku, hingga ku terjatuh.
"Glubrak!' motor yang pakai membantingku hingga ku tersungkur. Entah berapa lama ku tak sadarkan diri, terbaring di atas kasur sprei warna putih, hidungku tersumbat selang yang terhubung tabung gas oksigen, Di tanganku tertancap jarum dan selang panjang menuju botol infus. mataku terpejam, hanya terdengar sayup-sayup pembicaraan orang di ruang kamar ICU.
Kudengar bisikan seorang perempuan renta yang memanggil manggil namaku agar segera sadar.
"Fandi...Fandi... sadarlah, Nak, ini ibu" kata perempuan itu yang mengaku ibuku
Mata ingin kubuka, tangan ingin kugerakkan, bibir ingin berucap, namun semua itu tak isa kulaukan. Tak terasa, tetesan air mataku membasahi pipi. hanya itu yang dapat kurasakan.
"Hatiku teringat, akan perempuan yang menjadi pujaanku, kala itu. ingin rasanya ada di sampingku saat ini, menemani dan memberikan sejuta harapan hidup kembali.
Lagi-lagi terdengar suara riuh di kamarku, seseorang datang meminta izin untuk menyapaku.
"Mas, apakah masih ingat suaraku?" tanya seorang perempuan di telingaku
"Mas, apakah masih ingat suaraku?" tanya seorang perempuan kedua kalinya
Dalam hati ku ingin berucap, namun terasa berat, "Iya, aku ingat akan suaramu'"
Beberapa saat kemudian tanpa mendapat jawabanku, aku merasakan hangatnya kecupan di keningku.
saat itu ku merasa damai dan bahagia, merasakan kecupan seorang perempuan pujaanku.
namun inilah akhir hidupku yang tak mungkin dapat kurasakan lagi.
Pujaanku.... maafkan aku. Ibu... doakan anakmu, agar kepergianku tenang di sisi-Nya.
Aku ikhlas atas semua yang terjadi padaku unuk pujaanku.
Komentar
Posting Komentar