Cerpen "Keangkuhan Doni"

Sifat dan sikap seseorang terkadang sulit dihilangkan, terlebih lagi jika lingkungan dan orang-orang sekitarnya menjauhi dan membenci orang tersebut, maka akan membentuk pribadinya secara utuh. Doni salah satunya, ia terkenal sasngat angkuh dan sombong, karena dipicu oleh ejekan teman-temannya. Sebenarnya dulu ia anak yang sangat baik, penurut dan sering membantu, namun semenjak ia berbuat salah terhadap temannya, ia justru dibenci dan dijauhi tman-temannya.
Suhardoni Hasan biasa dipanggil Doni merupakan anak kedua dari tiga bersaudara pasangat Suhartono dan Martini.  Ia anak yang sopan dan patuh pada kedua orang tuanya. Dia juga pintar dibanding kedua saudaranya, sehingga kedua orang tuanya sangat menyayanginya.
Kejadian memalukan tak sengaja dilakukan Doni di sekolah. Saat itu, ia hendak ke kamar mandi dengan tergesa-gesa, tanpa ia sadari saat membuka pintu kamar mandi sebuah gayung berisi air telah menimpanya.
"Byuur...!"
"Sialan, siapa yang pasang perangkap ini?" gerutu hati Doni
Setelah membuang hajat, Doni langsung pulang ke rumah tanpa minta izin dari guru lantaran bajunya basah kuyup. Sementara di kelas Bu Rati selaku guru kelasnya pun bingung mengapa Doni belum juga masuk kelas.
"Anak-anak, kenapa Doni lama sekali di kamar mandi?" tanya Bu Rati.
"Tidak tahu, Bu!" kata Tino
"Ha.ha.ha, paling basah kuyup Bu!" kata Fajar
"Lho, kok bisa?" tanya Bu Rati sambil melihat seluruh siswanya.
"Tino, coba ceritakan apa maksud kamu mengatakan basah kuyup?"tanya bu Rati lagi.
"Maaf Bu, itu ulah Galih tadi saar kutemani di kamar mandi dia menaruh gayung berisi air di atas pintu, jika pintu dibuka, gayung akan jatuh dan airnya mengenai badan," jelas Fajar.
Bu Rati memandang Galih yang sejak tadi diam membisu.
"Apa benar yang kamu lakukan, Galih?"
"I..iya, Bu. Maaf." sesal Galih
"Baiklah, sekarang kamu susul Doni minta maaf dan suruh balik ke kelas" pinta Bu Rati.
Tanpa menjawab, Galih segera keluar menuju kamar mandi. Ia cari kesana kemari tapi tidak menemukan Doni.
"Duuuh kemana nih Doni?"
Seperempat jam ia mencari Doni tapi belum ketemu hingga waktu istirahat tiba. Teman-teman  Galih mendatanginya.
"Bagaimana, Lih. Ketemu Doni belum? tanya Fajar
"Belum, Jar."
"Jar, kamu bilang Doni mungkin kena jebakan Galih, bajunya basah kan, nah pasti dia pulang," kata Siska
"Benar juga, ayo Lih! kita datangi rumahnya." bujuk Fajar.
"Baiklah, ayo teman-teman kita coba darangi rumahnya.
Akhirnya teman sekelas Doni mendatangi rumah Doni.
Benar saja, Doni memang pulang ke rumah, teman-temannya melihat Doni sedang menjemur pakaiannya yang basah. Namun, begitu Doni melihat teman-temannya datang, justru Doni menutup semua pintu rumahnya. Ia tal mau bertemu lagi temannya.
"Doni, maaf aku ya! aku yang telah memasang perangkap gayung," kata Galih dari luar rumah.
"Doni pasti maeah sama kita, Lih. dan tak mungkin ia ajak ke sekolah sekaeang. Lihat saja, baju seragamnya sedang dijemur," sahut Siska
"Sebaiknya kita kembali besok pagi saja sekalian berangkat sekolah bersama. Bagaumana?" lanjut Marta.
"Baiklah, sekarang kita kembali ke sekolah, Bu Guru sudah menunggu,"  ucap Galih menyerujui. 
Sesampainya di sekolah mereka langsung ke kelas melanjutkan pembelajaean bersama Bu Guru.
Keesokan harinya teman-tan Doni menghampirinya, namun Doni sudah berangkat pagi sekali. Mereka pun langsung menuju sekolah. Saat di sekolah perilaku Doni sungguh jauh berbeda, ia menjadi angkuh dan tak mau berteman lagi dengan teman sekelasnya. Ia lebih suka sendiri, Di saat rugas kelompokpun Doni tak mau bergabung hingga banyak teman yang mengejek dan mencelanya. Doni tetap pada sukapnya.
Doni memang cerdas, ini dilihat dari hasil raport Doni yang menduduki rangking pertama, namun sayangnya sikap Doni sekarang jauh dari sifatnya dulu. Doni yang angkuh dan sombong menjadi identitas yang tak kunjung hilang entah sampai kapan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERJEBAK LUMPUR

RESTORAN RUMAH KACA

Tahun Baru Kamil