Cerita "Tentang Kita"

 Awalnya ku tak percaya bahwa  aku mendapatkan seorang pendamping hidup di usia yang tak lagi muda. bukan secara kebetulan peristiwa ini terjadi, namun karena suatu niat untuk dapat membina rumah tangga dalam hidup ini.

Setiap hari aku berkeliling menjajakan buah dari satu kampung ke kampung lainnya, aku dikenal sebagai Pak Ceking. yah maklumlah karena badanku memang kurus, usiaku saat ini telah menuju kepala lima, tepatnya empat puluh sembilan tahun. Dari lima bersaudara aku berada di tengah, kedua kakaku sudah menikah, bahkan kedua adikku pun sudah. hanya tinggalah aku sendiri. dalam hati sebenarnya aku ingin sekali seperti kakak dan adikku, namun belum juga terampaikan.Sedih rasanya bila ku mengingatnya.

Pagi ini cuaca sangat cerah, aku berangkat pagi-pagi ke pasar membeli beberapa pisang dan buah lainnya menggunakan motor. kemudian, setelah dirasa cukup, aku langsung berkeliling ke kampung. salah satu pelangganku sudah siap menunggu. Sebut saja Tia, ia gadis lugu anak seorang pensiunan polisi. Tia anak paling kecil dari tujuh bersaudara. ia baru menamatkan sekolah SMA, setelah itu membantu ayahnya yang sudah tua mengurus rumah tangga. ibunya telah lima tahun meninggal, sehingga hanya berdua dengan ayahnya yang sudah tua. 

"Pisang-pisang, mangga, rambutan?" teriakku menawarkan dagangan setibanya di depan gang Melati.

"Salaknya, ada gak, Bang?" tanya seorang perempuan yang tak lain adalah Tia

"Eh, Neng, mau beli buah? kebetulan salaknya, abang tidak membawa, yang lain dulu ya, Neng!" jawabku

"Emang lupa ya, Bang? kemarin lusa aku kan pesen dibelikan salak satu kilo!" katn Tia.

"Maaf, Neng, Abang lupa, besok saja ya, Neng, Abang belikan.

'Ya, sudah, buah apa yang dibawa< pepaya ada gak?

"Apa, Neng? Buah dada? 

sontak saja Tia kaget bukan main, Pak Ceking berkata seperti itu. Maklumlah, di usia ini, penyakit pikun mulai menggerogoti Pak Ceking.

"Maaf, neng, Maaf, tidak sengaja, tadi buah apa yang diminta ya, neng? tanyaku malu

"Pe pa ya, pepaya, jelas? suara Tia dengan nada tinggi.

"Oh, pepaya ya, Neng, ada Neng, mau berapa biahnya?"

"Satu saja, pilih yang matang, karena buat ayahku! pinta Tia,

Iya, Neng, ini sudah matang buahnya. dan sebagai rasa bersalahku, yang ini gratis buat ayah Neng, semoga lekas sembuh ya.

Tanpa menjawab, ia mengambil buah yang kusodorkan, dan melangkah pergi meninggalkanku. Namun,belum lima langkah berjalan, ia berbalik mendekatiku.

"Maaf, Bang, Tia juga salah, Maafin Tia, ya Bang. dan terima kasih pepayanya." kata Tia

'Maaf, Neng, bolehkah  Abang menemui ayahmu? pintaku

"Untuk apa?"

"Hmm, sekadar ingin bertemu saja, kok Neng, katanya ayah Neng sedang sakit, jadi Abang ingin menjenguknya. Boleh ya? kataku sedikit memaksa.

"Baiklah, silakan masuk."

Singkat cerita, aku sering berkunjung ke rumah, Tia dan menjenguk ayahnya yang sakit. tanpa disadari, Tia selalu memperhatikanku kala membantu ayahnya duduk dan makan buah yang dibelinya. Ayah Tia justru berpesan padaku untuk menjaga dan membimbing Tia. Awalnya aku bingung apa yang dimaksud ayahnya Tia, karena dalam anganku, Tia masih muda dan energik, masih produktif jika bekerja di sebuah kantor ataupun pabrik. Namun karena harus menjaga ayahnya, sehingga di rumah. sedangkan saudaranya yang lain telah memiliki rumah sendiri. Hanya hari libur keluarganya dapat berkumpul bersama,, sehingga setiap harinya Tia. yang harus menunggui ayahnya.

Rasa penasaranku menjadi kenyataan, setelah ayahnya Tia memintaku menjaganya, justru maksudnya adalah menikahkan Tia denganku. Dalam kebingunanku, Tia pun tidak menolak permintaan ayahnya, sehingga kami pun menikah. namun tak berapa lama kemudian ayah Tia meninggal dunia. 

Selamat jalan ayah, semoga engkau tenang di sisi-Nya. ucap Tia yang terakhir pada ayahnya.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERJEBAK LUMPUR

RESTORAN RUMAH KACA

Tahun Baru Kamil