Cerpen "Buah Keikhlasan"
Buah Keikhlasan
Bukan
suci Ramadhan baru separuh perjalanan, namun Agnes sudah tak sabar menunggu
saatnya lebaran. Maklumlah, Agnes anaknya begitu manja di antara ketiga
saudaranya, ia anak bontot di keluarga
Pak Susilo. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Pak Susilo memang kerap membelikan
anak-anak kesayangannya baju lebaran. Namun berbeda tahun ini, di mana
perekonomian keluarganya begitu sempit dan terlilit hutang. Pak Susilo belum
bisa membelikan baju lebaran buat anak-anaknya.
“Ayah...
kapan Agnes dibelikan baju, Yah? Agnes sudah berpuasa dari awal kemarin,” tanya
Agnes sambil terisak di depan ayahnya.
“Agnes,
maafkan ayah ya, Nak! Ayah belum ada rezeki untuk itu, baru untuk kebutuhan
makan kita. Insya Allah nanti kalau ayah sudah punya uang lebih, pasti ayah
belikan.” Jawab ayah memelas
“Tapi,
Yah? Lebaran kan sebentar lagi,” tanya Agnes kembali
“Agnes,
sini sayang, bantu ibu buat kue yuk!”
panggil ibu dari pintu dapur
Tanpa
menjawab, Agnes meninggalkan ayahnya dan mendatangi ibunya ke dapur. Sementara Pak
Susilo merasa kasihan dan bersalah karena belum bisa membelikan baju lebaran
untuk anak-anaknya. Terlihat Bu Aminah istrinya menyunggingkan senyum pada
suaminya.
Keluarga
Pak Susilo memang sangat harmonis, mereka dikaruniai empat orang anak, satu
laki-laki dan tiga perempuan. Agnes adalah anak yang terakhir di keluarga
tersebut. Pak Susilo bekerja di perusahaan swasta, tetapi semenjak terjadi
pandemi, ia terkena pengurangan tenaga kerja alias di PHK, sehingga
kesehariannya ia memabntu berdagang kakaknya di pasar.
“Agnes,
tolong ambilkan terigu di almari dapur ya,” pinta ibumya
Agnes yang masih terisak menuruti perintah ibu, yah
memang Agnes selain manja tetapi ia penurut dan sering membantu ibu di dapur.
“Ini
terigunya, Bu.!” Agnes menyodorkan terigu dalam kemasn plastik pada ibunya.
“Terimakasih,
sayang, kamu pintar sekali,” jawab ibu sambil tersenyum
Mereka
hanyut dalam kegiatan membuat kue di dapur, sementara Pak Susilo duduk di kursi
dan melepas lelah sepulannya dari pasar.
“Assalamu’alaikum!”
ucap Hasbi dan Husni sepulang kegiatan remaja masjid di desanya.
“Wa’alaikumsalam”
sahut Pak Susilo dari ruang tamu
Setelah
mencium tangan ayahya, Hasbi dan Husni pun bergegas membersihkan diri
Assalamu’alaikum!”
ucap Ratih sepulang bermain dengan teman. Ia pun langsung menemui ayahnya dan
mencium tangannya.
“Ibu
dan Dik Agnes mana, Yah?” tanya Ratih
“Oh..
ibu dan adikmu sedang membuat kue di dapur,” Jawab ayahnya
“Asyiik!
Pasti buat kue lebaran ya, Yah?” sahut Ratih sambil meninggalkan ayahnya menuju
dapur.
Setelah
bertemu ibu dan mencium tangannya, Ratihpun membantu ibunya.
“Dik
Agnes kenapa, Bu, kok matanya lebam habis menangis ya?’
“Ratih,...,
kamu sudah shalat asar belum?” tanya ibu mengalihkan perhatian
“Eh
iya, Bu, Ratih belum shalat, Ratih mandi dan shalat dulu ya Bu?” ucapnya manja
Menjelang
maghrib tiba, keluarga Pak Susilo sudah berkumpul di ruang makan bersiap untuk
berbuka puasa. Dan setelah menyantap hidangan buka puasa, Agnes mendekati
ayahnya.
‘Yah,
besok belikan Agnes baju lebaran ya!” pinta Agnes
“Agnes,
yuk kita bereskan peralatan makan, setelah itu kita shalat berjamaah bersama!”
sela ibu pada Agnes
“Iya,
Bu. Kak Husni dan kak Ratih juga bantu Ibu dong!” sahut Agnes kemudian
“Oh,
itu pasti,” jawab Husni dan Ratih serempak
Hari
semakin malam, semua anak-anak Pak Suslio sudah beristirahat di kamar
masing-masing, namun Pak Susilo belum bisa tidur, teringat Agnes putri
bungsunya yang selalu merengek minta dibelikan baju lebaran.
“Pak,
ada apa?” sudah larut malam ayo tidur dulu, khawatir bangun sahurnya kesiangan.,”
pinta istrinya
“Bu,
aku teringat anak-anak kita, aku belum bisa membelikan baju lebaran buat mereka!” jawab Pak Susilo
“”Sudahlah
pak, jangan dipikirkan, insya Allah besok ibu ada rezeki dari hasil membuat
pesanan roti. Kita bisa belikan mereka baju lebaran,” jawab istrinya meyakinkan
“Ya,
Bu, mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan keluarga kita. Amin.”
Keesokan
harinya kebetulan hari Minggu, setelah semua pesanan roti selesai dibuat,
anak-anak Pak Susilo yang mengantarkan pesanan roti, kemudian memberikan uang
hasil pesanan roti pada ibunya.
“Alhamdulillah,
Hasbi, Husni, Ratih, dan Agnes, rezeki kita semua. Dan insya Allah cukup untuk
membeli baju lebaran buat kalian, bagaimana?” ucap ibu pada keempat anaknya
“Lho,
kok diam semua, kalian tidak senang kita dapat rezeki hasil pesanan roti buatan
ibu?”
“Tidak,
Bu. Alhamdulillah kita semua senang kok,Bu. Tapi..!’
“Tapi
kenapa?’ sela ibu
“Kami
tidak ingin membebani ayah dan ibu, lebih baik uang itu untuk membuat roti
kembali dan kita jual dan sebagian kita sedekahkan,” jawab Hasbi
“Iya,
Bu, atau untuk membayar zakat kita!” jawab Ratih
“Astaghfirullah,
iya, ibu lupa, tapi biasanya dibayarkan ayah di malam hari raya, Tih! Jawab ibu
“Benar,
Bu, tapi kan ayah sekarang tidak seperti dulu, semenjak pandemi, Husni lihat
ayah hanya bisa mendapatkan rezeki dari membantu Pakde di pasar. Jadi lebih
baik disimpan dulu untuk zakat kita nanti ya Bu.”
Ibu
merasa iba dan bangga akan keputusan anak-anaknya, inikah anak yang shalih dan
sholihah. Jawab ibu dalam hati sambil memandang Agnes yang sejak tadi terdiam
membisu.
“Agnes,
Agnes kepingin beli baju lebaran? Tanya ibu pada Agnes
“Tidak
jadi, Bu, Agnes juga tidak ingin membebani ayah dan ibu, baju Agnes juga masih
ada yang terlihat bagus, pemberian kakek bulan lalu.” Jawab Agnes lirih.
“Ya
Allah, semoga anak-anak kami benar-benar tulus ikhlas dan menjadi anak anak yang
shalih dan sholihah. Amin” doa ibu dalam
hati
Dua
hari menjelang lebaran, Agnes sudah tidak meributkan baju lebaran yang belum
dibelikan orang tuanya.
Paket...”
siang. Bu ada paket buat Pak Susilo benar ini rumahnya? Tanya seorang tukang
pos sambil menyodorkan alamat tujuan dan bungkusan paketnya.
“Benar,
Pak! Paket dari mana dan siapa ya? Tanya Bu Aninah heran
“Maaf,
Bu, di sini tidak tertulis nama pengirim hanya nomor handphone saja. Mungkin
ibu bisa telepon orang trsebut.”
“Oh,
ya Pak terimakasih, nanti saya sampaikan suami saya.
Setelah
menandatangani bukti terima paket, Bu Aminah membawa bungkusan ke kamarnya.
Sepulang dari pasar, pak Sulsilo ditemui istrinya.
“Pak,
tadi ibu terima paket dari seseorang, entah siapa, tapi nama dan alamat benar.”
Ucap Bu Aminah pada suaminya
“Oh
ya Bu, terimaksih, di mana paketnya? Tanya pak Susilo
Ibu
taruh di kamar, Pak, nanti kita buka bersama.
Setelah
mandi dan cukup beristirahat, pak Susilo
dan istrinya berada di kamar dan membuka paket yang diterimanya
“Masya
Allah Bu, ini baju-baju buat kita semua.! Ucap Pak Susilo pada istrinya.
“Masya
Allah Pak, Iya, siapa yang mengirim buat kita ya pak?”
“Coba
Bu, nomor teleponnya. Tanyanya pada sang istri
Setelah
ditekan nomor telepon dan diangkat oleh sang pemilik nomor...
“Assalamu’alaikum,
maaf Bapak/Ibu siapa, apakah Bapak/ibu yang mengirim paket ke saya?” tanya Pak
Susilo di telepon
‘Wa’alaikumsalam,
apakah benar, ini pak Susilo?’
“Benar
Pak, saya Pak Susilo!” terimakasih telah memberikan paket baju untuk keluarga
kami. Kalau boleh tahu Bapak siapa dan dari mana?
Selamat,
Pak! Saya ucapkan terimakasih telah mendapatkan pertolongan bapak saat saya
jatuh sakit tak sadarkan diri di terminal dua minggu lalu, Bapak mengantakan
saya ke rumah sakit dan menunggu hingga saya sadar. Saya Burhan dari Bandung,
Pak. Dan saya sengaja mengirmkan baju buat Bapak sekeluarga sebagai tanda terimakasih
saya atas apa yang Bapak perbuat. Sekali lagi terimakasih atas pertolongan Bapak
dan saya harap Bapak berkenan menerima paket kami. Asaalamua’akum.
Wa’alaikusalam,
ya Pak terimakasih semoga Allah membalas budi baik Bapak pada keluarga kami.
Amin
Akhirnya
Pak Susilo istri dan keempat anaknya mendapatkan baju untuk menyambut lebaran
tiba. Mereka semua berbahagia
Allahu
Akbar Allahu akbar, La ilaa ha illa Allah Allahu Akbar, Allahu Akbar walillaa hi
alhamdu.
###

Komentar
Posting Komentar