Cerita Anak "PIL PAHIT"
PIL
PAHIT
Musim
hujan telah tiba, semua bersiap menghadapi musim ini, ada yang membeli payung,
jas hujan dan lainnya. Para petani pun tak luput dari persipan menebar benih
yang akan ditanamnya. Bagi anak-anak, turunnya hujan sering digunakan untuk
bermain-main sambil hujan-hujanan.
Siang
ini cuaca sudah mulai mendung, langit berwarna gelap tanda akan turun hujan.
Anak-anak di desa Suka Maju banyak yang sedang asyik bermain sepak bola. Mereka
tidak menghiraukan bahwa sebentar lagi turun hujan.
‘Min,
sudahin saja yuk main sepak bolanya, mau turun hujan nih” kata Doni sambil
menggirng bola ke arah Parmin.
Doni
ini anaknya jago bermain bola, walaupun tubuhnya agak gemuk tetapi lincah saat
menggiring bola ke gawang, sedangkan Parmin lebih kurus kurang begitu lihai
memainkan bola, mereka berdua teman akrab dan rumahnya bersebelahan.
“Iya,
Don, kayaknya mau turun hujan lebat” sambut Parmin sesaat menerima operan Doni.
“Ayo,
Min, tembakan ke gawang! Teriak Herman
dari kejauhan
Parmin
berhenti sejenak, melihat gawang lawan yang telah dekat dan peluang memasukkan
bola. Tiba-tiba....
“Sreseet..duar...jeder!
petir menggelegar di atas awan
Seketika
itu juga anak-anak berhamburan keluar lapangan. Dan parmin pun lari
terbirit-birit karena takut suara petir yang begitu dahsyatnya.
“Man,
ambil bolanya, besok kita teruskan lagi ya..hujan turun lebat nih” teriak
Parmin pada Herman yanga tidak jauh dari bola.
Tanpa
mejawab, Herman pun langsung mengambil bola dan lari pulang sebelum hujan
turun.
Doni,
Parmin, Herman, dan anak-anak desa Suka Maju memang suka berrmain bola, dalam
rangka even sepekbola yang diselenggarakan di Kabupaten Maju Makmur ini, mereka
sering berlatih sepak bola setiap sore hari. Tahun lalu tim sepak bola desa
Suka Maju menjuarai peringkat pertama. Sama seperti tahun lalu, even yang
diadakan pun dalam musim penghujan, sehingga banyak peserta yang setelah
berlaga mengalami sakit demam, tak terkecuali Doni.
“Min,
ayo berhenti dulu di gubug itu! Teriak Doni di tengah hujan deras.
“Tidak
usah, Don, sedikit lagi kan sampai rumah, ayo lari lagi mumpung belum begitu
deras! Sahut Parmin sambil berlari.
“Sreseet..duar...jeder!
petir menggelegar dahsyat sekali
Doni
yang awalnya ingin berteduh, akhirnya pun meneruskan pulang sambil
hujan-hujanan, takut sendirian apalagi suasana sore semakin gelap karena turun
hujan.
Sesampainya
di rumah, Doni masuk lewat belakang rumah kemudian mandi. Ibu Doni yang tahu
anaknya pulang hujan-hujana hanya menggeleng-gelengkan kepala.
“Don,
mau pakai air hangat apa tidak? Tanya ibu sambil mengantar handuk ke kamar
mandi.
Di
keluarganya, Doni adalah seorang anak semata wayang, sehingga kedua orang
tuanya sangat menyayangi dan memanjakannya, mamun bagi Doni, tetap bersikap
sebagaiaman teman-teman yang lain, tidak manja dan sopan terhadap kedua orang
tuanya.
“Terima
kasih Bu, Doni cukup pakai air dingin saja, insya Allah tidak apa-apa” Sahut
Doni dari dalam kamar mandi
“Ya
sudah, jangan lama-lama ya, Don, khawatir nanti masuk angin!.” pinta Ibu.
Tidak
sampai lima menit, Doni kemudian keluar kamar mandi, dan berrlari menuju
kamarnya.
Doni
sudah terbiasa mandiri sejak kecil, makan, minum, mandi, berpakaian, semua
sudah dilakukannya sendiri tanpa disuruh orang tuanya. Kemandirian inilah yang
membuat Doni menjadi anak yang bertanggungjawab.
“Don,
kalau sudah selesai pakai baju, makan dulu ya, ibu sudah menggoreng daging
kesukaanmu” pinta ibu pada Doni.
“Iya.
Bu, sebentar!, jawab Doni dari kamar
Selang
lima belas menit, Doni keluar kamar dan menuju ruang makan, namun, di ruang
makan, Doni merasakan tidak enak badan, badannya terasa pegal hidungpun mampet.
Doni ingin sekali makan daging goreng kesukaannya, tetapi rasanya tidak ingin
makan. Doni hanya mengambil ai minum hangat saja, selanjutnya pergi menuju
kamarnya.
“Lho,
Don, kamu kenapa? Kok tidak jadi makan, ibu sudah menyiapkan dari tadi lho!”,
tanya ibunya heran.
“Iya,
Bu, tadi setelah bermain bola, Doni sudah makan jajan jadi belum lapar, jawab
Doni agar ibunya tidak curiga.
“Tapi,
badan kamu panas ini, kamu sakit, Don,?”
“Tidak,
Bu, Doni mungkin hanya capek baru main bola.”
“Oh
ya, sudah tidak apa, makannya nanti sajaya!”
Setengah
jam kemudian, terdengar dari kamar Doni.
“Uwek...uwek...
!” Doni merasakan isi perutnya mau keluar.
Ibu,
yang mendengar suara seperti orang muntah, langsung menuju kamar Doni.
“Kamu,
sakit, Do? badan kamu juga panas, nanti ibu kompres dulu ya!” ibunya memelas
sambil mngusap kepala Doni.
“Doni,
merasa mual Bu. Sebenarnya tadi mau makan tapi tidak enak badan, pingin muntah.”
“Ya
itu karena kamu mengalamai masuk angin. Masuk
angin sering kali
digunakan untuk menggambarkan masalah tidak enak badan, pegal-pegal, dan perut
kembung. Banyak yang menganggap bahwa hal ini terjadi karena terlalu banyak
angin yang masuk ke dalam tubuh, terutama saat musim hujan. Jelas ibu pada
Doni.
“Nah,
sekarang kamu minum air hangat dulu, makan sedikit lalu minum obat masuk angin,
ya.”
“Ehmmm...
obat kan pahit Bu! Doni susah kalau makan yang pahit.
“Ah,
kamu Don. Anak hebat tidak boleh menyerah begitu! Obat itu dibuat untuk melawan
penyakit yang ada di dalam tubuh, tentu pahit, tapi jangan kuatir, setelah itu
akan segera sembuh penyakitnya.:
“Baiklah,
Bu! Doni coba minum obatnya”
Sambil
bersandar pada dinding kamar, Doni melakukan apa yang dikatakan ibunya. Setelah
inum air hangat dan makan sesuap nasi, Doni memakan obatnya. Namun belum sempat
tertelan Doni sudah mengeluarkan isi perutnya lagi.
“Uwek...uwek...
!” Doni memuntahkan isi perutnya di kasur. Maafkan, Doni, Bu” Doni tidak
sengaja, dan obat ini terlalu pahit” rintih Doni gemetaran
Ibu
hanya tersenyum pada Doni, dan membersihkan muntahan yang ada di kasur. Setelah
itu, mengganti sprei yang kotor dengan yang bersih.
“Don,
pil itu memang pahit, tapi percayalah kamu bisa menelannya, karena ibu yakin
kamu ingin sembuh dan bermain bola lagi, kan? Apalagi seminggu lagi
kompetisinya akan segera digelar. Coba sekarang pil ini masukkan ke dalam
pisang yang sudah dikunyah, lalu kamu telan insya Allah tidak terasa pahit.”
ibu memberi semangat Doni.
‘Baiklah
Bu, memang benar, aku harus kuat dan semangat, kasihan teman-teman bila aku
belum sembuh sampai waktu lomba nanti.
Ibu
hanya tersenyum melihat Doni tetap kuat dan tegar, walaupun terlihat lemas dan
pucat.
“Sudah,
sekarang kamu istirahat dulu, nanati ayah pulang, kamu sudah baikan.” Pinta ibu
sambil mengelus kening Doni.
“Baiklah,
Bu. Terimakasih. Doni sayang ibu.”
Waktu
telah menunjukkan pukul 18.00 WIB, tanda waktu shalat maghrib tiba. Doni sudah
beranjak dari tidurnya bersiap melaksanakan shalat bersama ayah dan ibunya.
Doni merasa lebih baik dan sehat, setelah minum pil pahit pereda masuk angin
pemberian ibu sore tadi. Ibu melihatnya dengan tersenyum bahagia melihat Doni
kembali ceria.
Komentar
Posting Komentar