Cerita Anak "KADO BUAT IBU"
KADO
BUAT IBU
“Pagi anak-anak?” Sapa Bu Kusuma guru kelas IV SDN Sukamaju saat masuk
kelas.
“Pagi, Bu!” jawab anak-anak kelas IV serentak
“Apa kabar semua?”
“Baik, Bu! Semua sehat dan semangat.”
“Ya, baiklah anak-anak. Hadir semuanya Ya? Bu Guru ingatkan bahwa sebentar
lagi kita akan memperingati Hari Ibu, tentunya kalian akan memberikan sesuatu
yang spesial buat ibu kalian. Nah nanti, Bu Guru minta kalian untuk
menceritakan sesuatu itu ya..!”
“Iya, Bu Guru!”
“Baiklah anak-anak, Silakan siapa yang ingin menyampaikan terlebih
dahulu?”
“Saya Bu Guru!” sambut Robi sambil mengacungkan jarinya
“Ya, silakan Robi menyampaikan dulu.”
Kemudian Robi maju di depan teman-temannya menyampaikan cerita kado buat
ibunya.
“Pada hari Ibu nanti, saya akan memberikan kado baju baru, dan kutuliskan
namanya. Demikian dariku terimakasih.”
“Wah, bagus juga hadiahnya.! Yang lain bagaimana?” ayo lanjutkan! Pinta
Bu Guru
“Saya Bu Guru!” Tantri
mengacungkan jarinya
“Boleh, silakan Tantri menyampaikan!”
“Saya biasanya memberikan sekuntum bunga pada ibu, tahun ini pun saya
akan memberikan sekuntum bunga lagi buat ibu, pasti ibu suka, terimakasih.”
Kata Tantri
“Wah, ini walaupun sederhana juga bagus.” Puji Bu Guru.
Satu persatu anak di kelas Ibu Kusuma menceritakan perihal hadiah untuk
ibu mereka di Hari Ibu. Semua anak-anak di kelas itu sangat bangga dengan ibu
mereka, dan di hari ibu nanti mereka sudah menyiapkan kado istimewa buat ibu,
namun ada satu anak yang tampak sedih dan terlihat murung.
“Lho, kamu kenapa sayang? Kok sedih? Kamu tidak bisa memberikan sesuatu
yang istimewa buat ibumu?” tanya Bu Guru pada anak yang bernama Ita.
Ita hanya menggelengkan kepala, tanpa menjawab sedikitpun.
“Apakah kamu tidak ingin memberikan hadiah buat ibu?”
Ita justru menangis dengan pertanyaan Bu Guru. Di raihnya ujung bajunya
untuk mengelap air mata yang semakin deras membasahi pipinya yang mungil.
“Lho, kenapa? kok malah nangis” tanya Bu Guru
Dalam suasana yang sendu itu, Ita menceritaan bawa ibunya sudah lama
meninggal, dan ia tidak bisa berbuat apa-apa buat ibu.
Bu Guru hanya tersenyum.
“Ita, kamu bisa kok memberikan kado istimewa buat ibu!” kata Bu Guru
“Benarkah, Bu? Tapi, ibuku kan sudah meninggal. Tanya Ita setengah tidak
percaya
“Benar, Ita, walaupun ibumu sudah meninggal, kamu juga bisa membuat ibu
senang dengan memberikan kado lain. “ sambung Bu Guru meyakinkan
“Apa itu, Bu Guru?” tanya Ita penasaran.
Sambil tersenyum, Bu Kusuma menyampaikan bahwa memberikan kado seorang
yang sudah meninggal adalah dengan do’a.
“Do’a seorang anak sepertimu, sangat mustajab dan sampai kepada ibu di
alam sana, jadi jangan bersedih lagi ya!” jelas Bu guru
“Apa benar itu Bu Guru?” jawab Ita masih belum yakin
“Ya, tentu, Ita. Do’a anak shalih yang selalu mendoakan kedua orang tuanya
selagi hidup dan sesudah mereka meninggal dunia, sama saja kewajiban kita, Ita.
Ibumu pasti bangga, jika anaknya mendoakannya, ibumu di sana sudah tidak
memerlukan apa-apa selain do’a dari anak-anaknya.”
“Oh, begitu ya Bu Guru. Baiklah Bu, saya akan memberikan kado buat ibu
dengan berdoa agar ibu di alam sana mendapatkan pahala baik dan ditempatkan di
surga-Nya. Amin” jawab Ita penuh semangat.
Bu Guru melihat kecerian Ita kembali. Seperti anak-anak yang lain.
Belajar penuh semangat dan aktif berkelompok dalam kegiatan diskusi membahas soal
yang ada.
“Nah, anak-anak. Sebagai seorang anak kita wajib memperlakukan orang tua
kita dengan baik. Terutama ibu kita, ya. Walaupun ibu kita sudah meninggal
dunia sekalipun, kita tetap wajib memberikan hadiah buat ibu di hari Ibu ini.
Ingat, ibu kita sudah berjuang sekuat tenaga buat kita, mulai dari mengandung,
melahirkan, dan merawat kita sampai saat ini, bahkan hingga akhir hayatnya.
Jadi tidak ada alasan kita untuk tidak memuliakannya.” Jelas Bu Kusuma.
“Iya, Bu Guru.” Anak-anak serentak menjawabnya
“Baiklah, anak-anak, hari ini kita cukupkan belajarnya, salam untuk orang
tua kalian di rumah ya. Terimakasih dan selamat siang.’ Bu guru mengakhiri
pembelajaran
“Terimakasih Bu guru. Selamat siang.” Jawab anak- anak.
Komentar
Posting Komentar