Cerpen

 

Telor Kampung Spesial

Karya Agus Salim

 

Bel berdering dari sudut ruang kampus, seluruh mahasiswa berhamburan dari ruang kelas, tak terkecuali diriku yang saat itu sebenarnya telah gelisah menunggu waktu istirahat. Bukan karena ada yang ditunggu, bukan pula panggilan ayah ibuku yang sering meneleponku.

“Kapan kamu pulang, Nak? Ibu sudah memasak sayur kesukaanmu.”

Hari itu, aku benar-benar gelisah, tak tahu kenapa. Saat bel berdering aku langsung menuju kantin berharap apa yang aku risaukan terjawab.

“Kopi panasnya, Mba!” pintaku pada Mba Tutik, petugas kantin kampus

Tak berapa lama....

“Ini Mas, kopinya, yang lainnya bisa Mas buka tutup sajinya, ya!’

Tanpa menjawabnya, aku langsung meminum kopinya.

“Huah!...panas! tak sengaja ku memuntahkan kopi yang baru saja menempel di bibirku.

Aku tersentak kaget, tapi malu. Ku lihat Mba Tutik dan juga teman-temanku yang ada di kantin semua melihat ke arahku sambil tertawa kecil.

“Melamun ya Mas?” tanya Mba Tutik.

“Makanya, kopi masih panas jangan ditelan begitu saja. Ditiup dulu kek, atau tunggu agak dingin, baru disruput,” kata temanku menimpali.

Aku tak hiraukan tawaan mereka, berharap gelisah segera sirna.

Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, waktunya semua mahasiswa pulang ke rumahnya. Aku tersadar, jam terakhir kualiahku terpaksa absen, karena diliputi rasa gelisah yang tak kenal lelah menghiasi pikiranku. Dan aku masih duduk di sudut ruangan sampai ku dengar sapaan seseorang yang belum pernah ku dengar sebelumnya.

“Mas, belum pulang? Maaf mengganggu, boleh tanya tidak?”  seorang perempuan menyapaku halus.

Ku menatap wajahnya, yang bulat bersih dan bercahaya.

“Eh, Mba, iya, maaf, apa yang bisa saya bantu ya?” tanyaku.

“Begini, Mas, kalau saat PPL apa boleh memilih sendiri tempatnya?”

“Yah, mungkin saja boleh, Mba, asal ada alasan khusus, misalnya dekat dengan tempat kos, atau mungkin sudah berada di lokasi mengajar.” jawabku

“Oh, begitu ya, Mas, terimakasih ya atas sarannya.” Dia langsung balik kanan, setelah mengucapkan terimakasih.

Dalam pada itu, gelisahku mulai hilang, seiring perginya wanita itu dari hadapanku. Apakah wanita itu yang telah menghilangkan kegelisahanku ini. Tapi kenapa bisa begitu?

Hari kuliah berikutnya, seperti biasa kulalui dengan semangat menuntut ilmu. Kali ini perasaan gelisah tidak muncul, namun pikiranku terbayang seorang wanita yang kemarin menyapaku.

Bel istirahat telah berdering, ku keluar menuju ruang duduk di mana kemarin bertemu seseorang, dan berharap ia muncul di hadapanku.

“Assalamualaikum,” salam sapa seorang wanita

“Waalaikumsalam”, eh kamu ternyata. Kok sudah ada di sini? Tanyaku

“Iya, Mas, sengaja aku menemui, Mas, saya mau minta tolong boleh?” Pintanya.

“Apa yang bisa saya bantu, Mba?” Tanyaku semangat.

“Saya minta tolong cek RPP buatan saya, apakah sudah betul belum, karena hari ini, saya simulasi di kelas.”  Sambil menyodorkan lembaran folio yang penuh tulisan.

Ku terima lembaran folio tersebut, kemudian, ku telusuri kalimat demi kalimat, dan terakhir ku tertuju pada nama praktikan “Aqeela Sukma ”.

“Ternyata, namanya Aqeela Sukma , cantik juga ya? Pikirku dalam hati

“Bagaimana, Mas. Apakah ada yang perlu direvisi?” tanyanya mengagetakanku.

Ku rasakan harum semerbak aroma wangi masuk ke relung hati, saat dia mendekatkan tubuhnya tuk melihat coretan saraanku di kertas folio miliknya.

“Oh, iya, Mba, ini ada beberapa memang yang menurut saya perlu direvisi, kurang fokus pada tujuan pembelajaran. Ini yang saya lingkari ya.” Sambil ku tunjukkan koreksiku padanya.

“Terimakasih, ya Mas, sudah membantuku.”

“Eh  iya, sama-sama, maaf panggil saja saya Nazril.” Pintaku.

“Ya Mas Nazril, terimakasih.”

Mata dan hatiku terasa berdetak selama bersamanya. Aroma wangi menambah suasana romantis bagai di taman bunga. Namun, aku lupa menanyakan di mana ia tinggal. Berapa nomor teleponnya, jadwal perkuliahannya dan sebagainya.

Benar saja, di hari yang kuharapkan ia datang menyapaku, Ia tak terlihat lagi. Aku bingung kepada siapa aku bertanya, ke mana harus kucari, hilang kontak. Hatiku mulai gelisah.

“Jangan-jangan telah terjadi sesuatu padanya.” Pikirku.

 “Satu dua hari ini, pun tak ku dengar kabar beritanya, akankah ia tahu bila aku menunggunya? Akankah ia tahu jika aku merindunya? Ah, aku tak tahu kenapa. Mungkinkah ia mengenalku, atau juga merasakan hal yang sama sepertiku?” Hatiku mulai bergejolak tak menentu.

Minggu sore yang cerah, tak secerah hatiku saat itu. Aku masih berharap ia datang di saat aku menunggu di sudut ruangan.

“Assalamualaikum, maaf  Mas, apakah Mas menunggu seseorang?”

Seketika ku menolehnya, dan ternyata wanita yang lain yang menghampiriku.

“Ah, tidak, Mba, hanya lagi santai saja di sini, jawabku menutupi kegelisahanku.

“Ah, Mas bisa saja. Bukankah, mas ini Mas Nazril ya? Begini Mas, aku hanya mengantarkan surat ini dari temanku, Aqeela.” Sambil menyodorkan sepucuk surat padaku.

“Terimakasih, Mba.” Tanpa pikir panjang, langsung ku buka suratnya, ku baca dalam hati dan...

“...jalan Kauman no 9...” nah ini alamatnya. Ternyata benar, dia sakit, dan sudah tiga hari lamanya, dalam suratnya dia minta maaf tidak bisa menemuiku. Aku harus menemuinya.!”pikirku.

Sepulang kuliah, aku langsung pergi meninggalkan kampus. Ku kayuh sepedaku, kucari alamat yang ada pada surat, sambil membawa lima butir telor ayam kampung spesial yang ku pinta dari ibuku.

“Nah, ini dia tempatnya, jalan Kauman nomor 9.”

“Assalamualaiakum” ucapanku sambil mengetuk  pintu.

“Waalikumsalam.” Jawab seseorang dari dalam rumah.

Seorang nenek tua membukakan pintu untukku.

“Cari siapa, Nak?” tanya sang nenek.

“Haduh! siapa namanya ya?” Lama ku menjawabnya, ku buka lembaran suratnya, terlihat sebuah nama Aqeela.

“Hmmm.., Mba Aqeela, Nek!’ jawabku singkat.

“Oh, ya, ada silakan masuk, Nak! Aqeela...Aqeela...ini ada temanmu?” Panggil nenek

“Iya, Nek, sebentar.” Suara perempuan yang ku kenal saat di kampus.

Dari jauh, ku lihat seorang wanita masih berbalut jaket tebal keluar dari dalam kamar menuju ruang tamu. Makin lama makin jelas, perempuan itu yang ku tuju.

“Eh, Mas Nazril, maaf ya Mas, jadi merepotkan harus datang ke sini, apa ada yang perlu disampaikan?” sambutnya.

“Eh, Iya, Mba, suratmu sudah ku terima, dan ternyata kamu sakit ya, maaf aku tidak tahu. Ini ku bawakan telor kampung khusus untukmu, biar cepat sembuh dan sehat selalu.” Jawabku sambil menyodorkan bungkusan tas warna hitam kepadanya.

“Alhamdulillah, Mas, terimakasih, ini yang aku cari. Kok pas kebetulan yang ku harapkan ya Mas. Kemarin nenek cari belum dapat telornya. Kamu datang pas bawa telor.

“Itu namanya satu hati, Aqeela. Iya, lho Nak, nenek kemarin cari kok ya tidak ada. Ini kamu datang membawa yang diharapkan. Bukan sekadar kebetulan. Jodoh kali ya. heh.he..!” sambut tawa nenek.

Kami berdua hanya tersenyum, dan hanya mengamini dalam hati.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bionarasi

Aku seorang  GURU SD  yang ingin berkiprah dalam dunia menulis dengan nama pena “Aa”, aku terlahir di Kebumen pada tanggal 16 Agustus 1975 bertempat tinggal di Jl HM Sarbini RT 4 RW V Bumirejo Kebumen Jawa Tengah. Sebenarnya hobi menulis sudah sejak lama, namun baru satu setengah tahun ini mencoba mengikuti even menulis, terutama puisi. Salah satu even yang pernah saya ikuti adalah Lomba cipta puisi tingkat nasional Part VI yang diselenggarakan oleh Pena Artas dan PT Zona Media Mandiri tahun 2020. Kali ini, ingin mencoba berkarya dalam cerpen. Agar semakin berkembang hobi yang kujalani. Akun media sosial saya Fb Agus_Salim, dan IG @agus_salim2020.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERJEBAK LUMPUR

RESTORAN RUMAH KACA

Tahun Baru Kamil