Cerpen Kopi Prsahabatan

 

KOPI PERSAHABATAN

Pagi ini cuaca cerah, aktifitas orang-orang di desa Mekar Harum Kecamatan Hulu Sungai Kapuas sangat ramai. Pedagang, pekerja, dan pegawai kantor  sudah hilir mudik membuat suasana pagi itu semakin ramai. Tak terkecuali Farhan, seorang pmuda yang berwajah rupawan dan suka olahraga pagi, saat itu juga sedang berlari pagi mengitari desa sambil membawa sebotol air mineral, Ia melakukan kegiatan lari pagi rutin setiap dua hari sekali, biasanya dia bersama temannya Rio, namun pagi itu dia sendiri. Rio adalah sosok kawan yang sangat supel, pemberani, dan mudah bergaul walapun terhadap orang yang baru dikenalnya.

Sesekali Farhan mengusap peluh di wajahnya. Beberapa menit kemudian dia berhenti dan duduk di tepi taman kota seperti biasanya.

“Suasana taman kota pagi ini, teasa berbeda, sejuk dan sudah ramai sekali. Andai saja Rio bersamaku saat ini, tentu akan kuajak ngopi bareng tanda kebersamaanku selama ini.” gumamnya dalam hati

Sambil melepas lelah, pandangannya menerawang jauh ke arah rerimbunan pohon mawar yang saat itu penuh bunga mekar.

“Hmm..kayaknya ada yang ku kenal nih?”bisiknya dalam hati saat pandangannnya tertuju pada sesosok remaja berambut ikal.

Farhan beranjak dari duduknya dan menghampiri sosok yang dikenalnya. Farhan mencoba agak mempercepat langkah saat tahu sosok tersebut berdiri dan pergi meninggalkan tempat ia duduk tadi.

“Yah, kemana ya tadi orang itu, kayaknya sih aku kenal sosok periang nan supel, siapa lagi kalau bukan Rio,” pikirnya.

Farhan memandang dari sudut ke sudut taman. Tapi tak tahu kemana sosok seperti Rio pergi. Lalu Farhan melanjutkan langkah kakinya menuju kamar mandi, karena ia merasa akan buang air kecil. Namun, baru sampai di samping pintu kamar mandi, ia mendengar suara tawa yang sangat khas.

“Tidak salah lagi, pasti ini Rio. Akan ku tunggu ia di depan pintu” Farhan yakinkan diri.

Benar saja, baru 1 menit, keluarlah sosok yang disangkakan tadi, serta merta Farhan mengagetkan Rio dengan hentakan kaki dan suara mulutnya. “dooor..!

Sosok laki-laki tersebut pun kaget dibuatnya, lalu memandang Farhan dengan sorot mata tajam seakan marah dan ingin menghardiknya.

Farhan kaget dan malu sekali, seketika ia meminta maaf, kalau ternyata ia bukan Rio kawan karibnya.

Ma...ma..af! saya tidak tahu, saya kira Anda Rio teman karibku.

Laki-laki tersebut diam, sekaligus heran pada tingkah Farhan yang sok akrab, , dan akhirnya ia memaafkan Farhan.

“Siapa Anda?” tanya laki-laki tersebut.

 “Saya Farhan, maaf tadi sempat mengangetkan Anda, saya kira temanku Rio, karen suara tawa Anda sangat mirip sekali.

“Oh ya, tidak apa-apa. Kenalkan, saya Roni,  dari Tanjunglokang. silakan kalau mau ke kamar mandi, saya sudah selesai.

“Terimakassih, sekali lagi mohon maaf atas kelancanganku,” sesal Farhan

Setelah selesai dari kamar mandi, Farhan beranjak melanjutkan aktifitasnya dalam berlari pagi, mengingat bekal minumnya habis dan biasanya pagi hari diteruskan minum kopi, lalu  Farhan istirahat di sebuah warung kopi tak jauh dari taman bunga itu.

“Bu, kopi murni  manis ya”  pesan Farhan pada Bu Tina penjual minuman tersebut,

‘Ya, Mas, sebentar saya buatkan dulu. Jawabnya.

Bu Tina adalah janda kembang yang setiap hari berjualan minuman dingin dan panas di sekitar taman setiap pagi hari. Wajahnya yang cantik membuat banyak pria senang bertandang untuk minum kopi, sehingga setiap hari warungnya sangat ramai.

Tak lama kemudian kopi yang dipesan siap dinikmati. Ni, mas kopinya.

Karena kopinya masih panas, Farhan makan gorengan pisang terlebih dahulu. Sebelum tangannya sampai meraih pisang goreng, Farhan terkejut, pisang goreng disambar oleh orang tak dikenalnya, sehingga ia tidak mendapatkan alias habis.

“Maaf Bung, pisang gorengnya sudah kupesan sejak tadi. Kata orang berkumis tebal.

Farhan menghela napas panjang, menahan emosi. Kemudian ia beralih akan mengambil tahu goreng di samping kananya. Lagi-lagi, tahu gorengpun diambil seluruhnya oleh orang yang tidak dikenal.

Farhan tetap menjaga emosinya, agar tidak terjadi keributan.Orang-orang di dalam warung tersebut terkesan ada yang takut, ada juga yang sedikit tertawa akan kejadian yang ada di depan mereka. Namun juga ada yang merasa kasihan. Mereka tahu bahwa orang-orang yang mengambil segera tersebut adalah para preman yang secara kebetulan sedang berada di warung tersebut.

Farhan, hanya menyeruput kopinya yang sudah mulai dingin. Tak disangka, kopi yang dibuat untuknya, tidak ada rasa manisnya. Farhan hanya terdiam, kemudian ia berhenti minum.

“Bu, berapa kopinya?” tanya Farhan pada Bu Tina

“Hai, Bung habiskan dulu kopinya, baru bayar. Ha.ha.ha! bentak orang yang berkumis tebal, sebelum pejual gorengan menjawabnya.

Benar, kalau kamu tidak menghabiskan kopinya, berarti bayarnya dobel, ha.ha.ha.” sambut teman yang berkumis tebal tadi.

Farhan diam sejenak, lalu bertanya lagi pada si penjual gorengan.

“Sudah, habiskan dulu kopinya!”

Lagi-lagi kedua orang tersebut menyuruh Farhan untuk menghabiskan kopinya.

Hari ini, tak kusangka aku berhadapan dengan preman ini, tapi kenapa juga pemilik warung tidak memberikan kopi yang manis? Apakah sengaja ataukan ada yang menyuruhnya? Pikir Farhan dalam hati

Sudahlah, masa bodoh. Farhan kemudian mengambil minuman kopinya yang terasa agak aneh, pahit dan kental.

Sebelum meminumnya, terdengar dari luar suara yang tak asing ditelinganya menyuruhnya untuk membuang kopinya.

“Buang saja saja kopinya,” Mas Farhan.

Farhan menegok ke belakang, dilihatnya Rio kawan dekatnya.

“Ri..o..., kamu..!

“Bu, kopinya dua, buatkan! Pinta orang yang baru datang yang ternyata Rio kawan Farhan.

“Maaf Bang Rio, kami tidak tahu, kalau Bung ini teman Abang.

“Maaf. Bu, kopinya yang manis, untuk Bang Rio dan kawannya”. Lanjut si kumis tebal pada Bu Tina penjual gorengan.

“Maaf ya Bang, kopinya tadi memang sengaja tidak dikasih gula” Bu Tina menjelaskan

“Sebenarnya...” Bu Tina tidak melanjutkan kalimatnya

“Sebenarnya begini, Mas Farhan, dua orang itu dan yang berada di sini adalah kawan-kawanku. Aku tahu pasti kamu akan masuk ke warung ini. Sengaja aku yang membuat suasana ini. Yah, ini momen kebersamaan kita selama ini belum pernah diabadikan.” Lanjut Rio.

Saudara-sudara semua, hari ini spesial  saya berikan kepada saudara semua untuk makan dan minum kopi gratis, sebagai pertanda persahabatan ku dengan mas Farhan.

Farhan akhirnya memaklumi dan menikmati terhadap semua yang terjadi si warung Bu Tina tadi.


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERJEBAK LUMPUR

RESTORAN RUMAH KACA

Tahun Baru Kamil