Broken Home
Sebut saja namaku Fani. Aku anak sulung dari lima bersaudara. Adikku yang
paling bungsu saat ini masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak. Tak tahu
mengapa aku harus mengalami peristiwa ini, di saat kuliahku baru semester dua
dan masih butuh kasih sayang orang tua, aku harus menghentikan kuliahku dan berpikir
panjang untuk bisa merawat adik-adikku. Sebenarnya sebagai anak sulung aku
belum siap menerrima kenyataan ini.
Sewaktu aku masih sekolah SMA, sudah ada tanda-tanda akan ketidaksetiaan
di antara kedua orang tuaku. Setiap kali ayah pulang kantor, ibu serta merta
ada kegiatan di luar. Di saat kami berkumpul, bercengkerama dengan ibu, ayah
seolah sibuk dengan pekerjaannya.
“Yah, Fani minta diajarin materi Bahasa Inggris dong, Yah” ini agak sulit
bagiku. Beranjak menghampiri ayah di kamar.
“Maaf, Fani, ayah sedang sibuk urusan kantor, coba tanya ibumu dulu ya!”
jawab ayah tanpa melihat wajahku.
Aku kemudian balik badan dan menghampiri ibu yang sedang menyusui si bungsu.
“Ibu, apakah mau membantu Fani mengerjakan soal Bahasa Inggris, Bu?, Fani
tidak bisa menjawabnya. Pintaku pada ibu.
“Fani, kamu kan tahu, ibu sedang menyusi adikmu, dari sekolah kamu kan
sudah diajarin bahasa Inggris, mestinya kamu bisa! Jawab ibu.
Fani mulai kesal, kemudian pergi meninggalkan ayah, ibu dan adiknya ke
kamar.
“Kak Fani, kak Fani....! Ari bingung nih kak matematikanya.
“Iya, kak. Ajarin aku juga,” pinta Romli.
“Ayah...ibu....Kak Fani tidak mau menjawab.” ucap Ari sambil menangis.
“Sudahlah, Ari, Romli, kalian belajar sendiri dulu yah...kalian kan anak
pintar. Ayo sana, mungkin Kakakmu juga sedang istirahat.
Suasana malam itu, menjadikan perasaanku kacau, semua sibuk
sendiri-sendiri.
Keesokan harinya, aku telah siap berangkat sekolah, namun ibu memanggilku.
“Fani...Fani,,,tolong mandiin Asih adikmu ya!,Ari dan Romli suruh bangun.
ibu lagi masak di dapur.
“Huff, bagaimana, ini saja sudah terlambat, suruh bantuan bangunin dan
mandikan adik. Gerutuku dalam hati.
“Bu, sekolah Fani kan jauh, ini saja mungkin terlambat sampai sekolah,
masa di suruh bangunin dan mandiin adik.
“Sebentar saja kok, Fan!” Pinta ibu setengah memaksa.
Akhirnya aku menurut kata ibunya, dibangunin kedua adiknya dan mandikan
Asih.
Setelah itu, Fani berangkat ke sekolah. Benar juga sesampai di sekolah
pintu gerbang sudah terkunci. Fani terpaksa harus menunggu sampai jam istirahat
pertama. Begitulah keseharian ku selama ini, Ayah dan ibu sudah tak harmonis
lagi, aku terbebani dengan keempat adikknu yang masih kecil.
Kini aku telah selesai menamatkan sekolah SMA. Suasana rumah makin panas
membara. Ayah sering pergi meninggalkan rumah tak tahu ke mana, sedangkan ibu
semakin asyik dengan teman-temannya.
Ketika ayah pulang, selalu marah, akulah yang jadi sasarannya.
“Fani, kemana ibumu? Sudah siang begini makanan di meja tidak tersedia!”
tanya ayah dengan nada keras.
“ Anu, Yah, ibu tadi pergi bersama Tante Diana tetangga sebelah, katanya
mau arisan.” Jawabku sedikit takut.
“Huff, krompyang!’ Fani melihat ayahnya menyapu piring di meja dengan tangannya.kemudian pergi
lagi meninggalkan rumah.
“Ayah,! Ayah mau ke mana?” tanyaku
Tanpa menjawab pertanyaan, ayah pergi begitu saja. Aku terdiam, kulihat adik-adikku
sedang mengintip dari balik pintu.
“Kak, Ayah kemana? Tanya Ari
“Iya, kak, ayah tadi pulang marah-marah terus kok pergi lagi, sahut Romli
kemudian.
“Kakak juga tidak tahu, Dik. Sudahlah ayo kita makan dulu!
“Tapi Kak, ibu belum masak...aku lapar kak,” sahut Romli.
“Sudahlah jangan nagis, nanti kakak yang buat ya, kalian nonton televisi
dulu!” jawabku menenangkan.
“Ya, Kak jawabnya serentak.
Asih dan Rita asyik bermain di ruang tengah. Aku membiarkannya agar tidak
menggangguku saat memasak di dapur. Tak lama kemudian ibu pulang, dan langsung
merebahkan badadnya di sofa panjang.
“Fani...Fan...Fani? ibu memanggilku sambil rebahan
“Iya, Bu! Ada apa?”
“Apa ayahmu sudah pulang? Tanya ibu.
“Iya, Bu, tadi ayah pulang lalu pergi lagi,” jawabku seadanya
“Ya sudah, tak usah kau pikirkan. Ibu capek mau istirahat dulu.”
“Ibu dari mana saja sih. Bu? Kok pulang lusuh begini!” Tanyaku ingin tahu
“Ibu cuma bersama ibu-ibu untuk
arisan, sudahlah jangan kau tanya lagi, ibu mau istihat dulu,” jawab ibu sambil
melangkah menuju kamarnya.
“Ayah, ibu, apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian? Mengapa kalian
seakan tidak peduli dengan kami anak-anakmu!” Tak terasa air mataku menetes di
pipi.
“Kak, sudah matang belum sayurnya, kami lapar kak.” Tanya Romli
menyadarkanku
Sontak aku kaget dibuatnya. Secepat kilat kulari menuju dapur dan segera
mematikan kompornya.
“Aduh, lupa matikan kompornya, sayurnya terlalu matang, dan agak gosong.”
Hatiku ingin menangis lebih keras lagi.
“Kacau...kacau...kacau!” umpatku dalam hati
“Maafkan kakak ya, semuanya mungkin kurang enak dimakan.”
“Iya kak, kami mengerti, tak mengapa, kita tetap akan makan kok, Kak,”
“Ayo, kita makan bersama, Kak!” sahut Romli
“Iya, sebentar, kakak panggil ibu dulu, kalian makan dulu ya.”
“Tak lama kemudian ibu pun keluar dari kamar dan ikut menyantap makanan bersama
kami.
“Fani, maafkan ibu ya, Nak!, ibu merepotkanmu!
“Tidak apa-apa, ibu, Fani mengerti, ibu letih dan perlu istirahat. Ibu
makanlah dulu, tapi maaf sayurnya agak gosong, aku akan menyuapi Asih dan Rita.”
Jawabku memelas
“Kamu tidak ikut makan, Fan?” tanya ibu
“Iya, Bu nanti Fani terakir saja.
Suasana sore itu cukup melegakanku, ibu tidak terlihat marah, dan
adik-adiknya bisa makan bersama, walau tanpa kehadiran ayah di tengah-tengah kami.
Setengah tahun berlalu, kini aku sudah memasuki perkuliahan semester
satu, dengan modal kuliah dari uang tabungan juga beasiswa dari sekolah SMAku
dulu. Secara kebetulan, aku termasuk salah satu siswi terbaik di SMA, sehingga
mendapat besaiswa untuk studi lanjut,
Di awal semester ini, hubungan kedua orang tuaku sudah mulai retak, Ayah
pernah kepergok ibu jalan bersama seorang wanita yang ternyata sahabat ibu
waktu di SMP dulu, dan kejadian itu membuat ibu membalas dengan perselingkuhan
dengan teman sekantor ayah.
“Fani, kamu kan anak tertua, tolong jaga adik-adikmu, ibu akan menemui ayahmu
di kantor.” Pinta ibu padaku setelah sarapan pagi.
“Iya, Bu, Fani akan usahakan.” Jawabku menenangkan ibu.
Ibu lalu melangkah pergi meninggalkanku dan adik-adikku.
Satu jam kemudian, terdengar sebuah mobil berhenti di depan rumah, tampak
ayah dan ibu keluar bersamaan dengan wajah marah dan saling menghujat. Mereka
merasa saling membenarkan diri dan menyalahkan yang lain. Sedikit keributan
itu, membuatku dan adik-adikku harus meyaksikannya di depan mata mereka. Sebuah
pemandangan yang tak seharusnya kami lihat atas kedua orang tuaku.
“Ayah...ibu...mengapa kalian tega pada kami, kami yang harus menerima
kenyataan ini, apakah kalian tidak mengerti betapa kami sangat membutuhkan
kebersamaan kalian seperti dulu.” isak tangisku dalam hati.
Terdengar dari dalam kamar, suara cekcok ayah dan ibu tidak terbndung
lagi, dan semakin menjadi hingga ayah mentalak ibu tiga kali, lalu melangkah
pergi meninggalkan ibu sendiri.
Ibu menjerit sejadi-jadinya dibarengi suara tangis yang menggelegar.
“Mas Cahyo..! jangan tinggalkan aku..Mas Cahyo...panggil ibu pada ayahku.
Selang beberapa saat, ku coba menghampiri ibu, lesu, letih, dan tak
berdaya terlihat dari pancaran wajah ibu
‘Ibu..! panggilku lirih
“Fan..Fani..., ayahmu pergi, Nak, Dia tinggalkan ibu sendiri...jawab ibu
sambil merintih pilu,
“Iya, ibu. Fani mengerti, nant Fani akan bicara pada ayah
“Jangan Fani, jangan temui ayahmu! Kalau kamu temui ayahmu, ibu takkan
rela, biarlah ayahmu pergi bersama perempuan iu...! bentak ibu pada Fani.
“Ya, sudah ibu, Fani janji tidak menemui ayah.” sambil menghela nafas, ku
keluar dari dalam kamar ibu, ku lihat Ari, Romli, Asih, dan Ratih ikut
menangis. Aku pun sedih melihatnya.
“Kak, ayah kemana? Aku ingin ikut ayah!” tanya Ari sambil menangis
“Iya, Kak, ayah kok pergi dan marah-marah sama ibu?” sambut Romli
Aku tak bisa menjawab, aku langsung menuju kamar dan menangis sedih.
Dua bulan berlalu, ayah datang ke rumah dan memberikan selembar kertas
pada ibu.
“Apa ini, Mas?” tanya ibu pada ayahku
“Itu adalah surat keputusan perceraian kita, dan mulai sekarang kita
berpisah!” jawab ayahku
“Ari, Romli kalian ikut ayah, ya!” Asih dan Ratih yang bersama ibu.
Sedangkan kau Fani, terserah! Kamu sudah besar bisa menentukan sendiri
pilihanmu!
“Aku tidak mau! Aku akan ikut ibu, ayah jahat!” jawab Ari
“Iya, ayah jahat!” aku juga tidak mau bersama ayah.” Lanjut Romli
“Baiklah, kalau begitu ayah pergi sendiri.” Seraya membalikkan badan lalu
pergi meninggalkan kami.
“Ayah, kenapa kau tega pada kami, memisahkan kami dengan ayah dan ibu
juga adik-adikku. Jeritku dalam hati.
“Fani!” kamu dengar kata ayah!” bentak ayah sambil marah
“Kamu akan ikut ayah atau ibumu?” lanjut ayah
Aku terdiam seribu bahasa, aku menangis sejadi-jadinya, lalu lari pergi
meninggalkan rumah
“Kakak!” teriak adik-adikku
serentak
“Ayah.....ibu.....mengapa kalian tega pada kami, anak-anakmu?” terus
berlari sambil menangis.
Di tengah pelarianku, aku teringat akan ibu dan adik-adikku, aku balik
badan dan kembali ke rumah. Sesampai di rumah kulihat ibu dan adikku sedih dan
isak taangis masih terdengar lirih.
“Fan...ibu bingung, bagaiman nanti membesarkan adik-adikmu, bagaimana
juga kuliahmu.” Keluh ibu padaku
“Sabarlah, Bu!, Fani paham maksud ibu, Fani akan coba bantun ibu, untuk
kuliah Fani, sementara Fani pending dulu, suatu saat insya Allah Fani bisa
melanjutkan.” Jawabku menenangkan ibu.
Dua tahun berlalu, kehidupan keluarga kami sudah mulai membaik, walaupun
tidak ada ayah bersama kami. Kuliahku terpaksa berhenti, untuk membantu ibu
mencari nafkah dengan bekerja di sebuah toko, sedangkan ibu berdagang
kecil-kecilan di rumah.
Begitulah kehidupan kami, akibat perceraian, kugantungkan harapanku
menjadi sarjana pendidikan, aku harus menanggung beban membesarkan adik-adikku.
Komentar
Posting Komentar